Sabtu, 26 Juni 2010

Kita semua sama sekali tidak tahu



Sudah hampir setahun aku menjalin hubungan dengan Kuota, aku mengenalnya saat aku tak sengaja megikuti kursus bahasa Inggris TOEFL. Da

n sudah setahun pula aku mengenal sosok Masuda Yamashita, sosok idola Jepang yang yang dikenal lewat debut solonya yang berjudul “HOPE”. Kuota dan Yamashita adalah teman sejak kecil.Dan secara kebetulan aku dan Yamashita satu sekolah, kami bersekolah di SMU TEITAN, sedangkan Kuota bersekolah di SMU TOHKA.

Meskipun mereka adalah teman kecil, tapi sifat mereka sangat bertolak belakang. Kuota adalah type laki laki setia, itu diakuinya saat dia manyatakan perasaannya padaku. Aku mempercayainya karena dia memang tidak pernah menunjukan tingkah laku untuk berbuat lain. Aku bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan kami berdua.

Sedangkan Yamashita adalah pria yang suka ganti ganti pacar, hal itu terang terangan ia akui dengan bangga. Kadang dia bisa dengan bangga menceritakan bahwa kemarin ia telah putus dengan pacarnya. Karena itu aku, Masami, Shota adalah teman sepermainannya di sekolah, maka dari itu tidak heran jika hanya kami bertiga yang selalu mengomentari tikahnya itu. Yang tidak habis kami pikir adalah, Yamashita trkadang merasa bangga dengan sikapnya itu, saat ia putus dengan pacarnya, lalu keesokan dia bisa dengan mudah menemukan pacar baru.

“Yuko~chan…!”begitu sapa Kuota setiap hari di gerbang sekolahku. Dia selalu menjemputku seusai pulang sekolah. Jarak sekolahku dan sekolahnya hanya sekitar 5 meter,tidak begitu jauh kan.

“Massu katanya sedang ada pemotretan ya?” Tanya Kuota saat aku sudah berdiri di sampingnya.

“Iya, makanya dia membatalkan karaoke bersama kita.”kataku cuek.”Oh ya aku dengar ada anak yang mau bunuh diri karena putus dengan Massu ya? Kuota tahu tidak?”

“Ah ya! Aku tahu”.”Bodoh ya perempuan itu karena terlalu berharap. Hehehehe” Kuota pun tertawa lebar, dan aku suka dengan wajahnya yang seperti itu.

Selain wajahnya yang sedang tertawa aku juga bangga dengan julukannya. Dia dijuluki Si Master Jenius TOEFL di tempat kursus. Bahkan bulan bulan yang lalu ia mendapat beasiswa 6 bulan gratis biaya uang sekolah, karena ia menang debat antar pelajar se provinsi. Keluarga Kuota adalah keluarga yang biasa – biasa saja, di keluarganya yang mencari nafkah keluarga adalah ibunya seorang, ibunya sendiri bekerja sebagai seorang juru masak di sebuah hotel kecil di kota sebelah. Kuota sendiri adalah guru les private anak – anak SD. Sebenarnya Kuota dan Massu sudah berteman sejak mereka TK hingga SMP. Namun karena perekonomian Kuota, ia pindah ke sekolah negeri. Namun meskipun begitu, mereka tetap berteman dan kadang mereka masih suka bercanda – canda seperti biasanya.

Hari ini seperti biasanya, seusai pulang sekolah kami mapir ke café dekat sekolahku dan setelah itu ke perpustakaan.

“Yuko mau pesan apa?”

“Kouta sendiri?”

“Aku pesan nasi goreng saja.”

“Kalu begitu aku pesan nasi curry.”

Tak lama kemudian makanan yang kami pesan pun sudah siap dihidangkan di depan meja kami, dengan lahapnya kami memakan makanan tersebut. Sambil melihat orang – orang yang berlalu lalang di depan café, kami menerka nerka apa yang orang itu bicarakan. Ada yang berjalan sambil menelepon, ada yang sedang membicarakan fashion yang sedang tren dengan teman se gank nya. Café yang sering kami kunjungi adalah café bernuansa anak muda. Mungkin dirancang khusus untuk anak remaja berkumpul, sebab lagu – lagu yang sering diputar adalah lagu band yang sedang trend saat ini. Terkadang kami sering mendengar lagu Massu di putar di radio café ini.

Seusai pulang dari café, kami menjalankan rutinitas biasa. Aku mengerjakan perkerjaan sekolah lalu setelah itu aku membereskan rumah, entah itu mencuci piring, atau menypu halaman.

Ah, ada mail masuk dari Masami,

“Yuko sedang apa?”

“Aku sedang mengerjakan tugas B.Inggris. Kau sendiri?”’

“Aku sedang di bus menuju ketempat kursus. Tugas B.Inggris kenapa kau tidak tanyakan pada pacarmu yang Master TOEFL itu.”

“Dia sedang bersiap – siap untuk menuju rumah Yamazaki”

“Siapa Yamazaki?”

“Murid barunya dari SD Chopin.”

“Oh ya, nanti malam kau bisa kerumahku?”

“Memang ada acara apa?”

“Tidak ada, hanya saja, Shota mau kerumahku.”

“Maaf Masami, sepertiny tidak bisa soalnya tugas ini masih banyak, lagipula orangtuaku berpesan agar aku malam ini membuat makan malam, mereka akan pulang pukul 9malam.”

“Tidak apa Yuko chan.. Baiklah , Gambare yah ^o^”

Masami adalah temanku yang paling feminim karena dari postur dan gayanya itu termasuk kriteria wanita yang mengikuti mode. Rambutnya panjang dengan model kriting spiral, tinggi badannya yang cocok untuk dijadikan model cover majalah mode. Masami sendiri memiliki hobi membuat kue, karena itu dia mengikuti kursus tata boga. Keluarganya membuka klinik kecil dekat daerah Akihabara. Dia hanya tinggal dengan kedua orangtuanya.

Lain halnya dengan Shota, ia adalah anak bungsu dari 4 bersaudara. Kakak pertamanya berkerja sebagai designer di subuah majalah nasional, sedangkan kakak keduanya adalah seorang koki restoran di sebuah hotel ternama di wilayah Shibuya. Kakaknya yang ketiga sama seperti Shota, ia masih bersekolah namun ia sudah masuk ke jenjang universitas. Ibu Shota sendiri adalah guru kesenian di universitas yang sama. Ayah Shota sudah meninggal 3 tahun yang lalu karena stroke. Saat itu kami belum mengenal Shota, kami kenal denganya hanya saat kelas 2 semester 2. Menurutku ia adalah seorang yang pandai menyimpan perasaan, karena ia pernah mengatakan bahwa ia terlalu lama menyimpan perasaannya itu, hingga wanita yang ia sukai itu pun menjadi milik orang lain. Namun di antara kami, tidak ada yang tahu siapa wanita itu, apakah ia satu sekolah dengan kami atau tidak.

Ah, aku sampai lupa memperkenalkan diriku, namaku Yuko Yamaguchi, umurku 17 tahun, siswi SMU teitan. Aku anak tunggal di kelurgaku. Orangtuaku membuka Toko Baju di area Shibuya. Mereka membuka toko hanya dari siang hari hingga malam hari, terkadang jika hari sabtu atau minggu mereka buka hingga pukul 2pagi keesokan harinya.

Tinggi badanku berkisar 168cm, berat badanku 45kg. Wajahkku agak bulat dengan model rambut sebahu, entah kenapa aku tidak begitu merasa percaya diri jika aku disuruh memanjangkan rambut. Karena itu dari dulu rambutku hanya sebatas bahu saja. Dirumah aku memelihara se ekor kucing yang kuberi nama Pochi. Pochi hanya kucing biasa, namun corak warna bulunya lah yang membuatku merasa bahwa dia adalah kucing yang cute. Dengan warna bulu dasar hitam, buntut panjang,dan warna putih bulunya seperti membentuk mantel yang menutupi kulitnya. Corak wajahnya yang seperti menara Eifel, dibuat sinkron dengan warna hidungnya yang pink.

Hubunganku dan Kuota sejauh ini sudah diketahui oleh ayah dan ibuku saat tak sengaja bertemu kami di area Shibuya. Ayah ibu ku hanya berpesan agar komitmen kami tidka main – main, karena jika hanya unutk main – main, nanti salah satu diantara kami ada yang sakit pastinya.

“Apa kalian tahu, kemarin saat pemotretan Erika terus berteriak – teriak memanggil namaku! Coba kalian bayangkan betapa malunya aku jika dia tetap menjadi pacarku.” Seperti biasa, itulah awal pembicaraan kami saat istirahat jam makan siang, kami selalu mendengar cerita – cerita Massu mengenai pacar baru nya atau mantan pacarnya. Dan tempat favorit kami selalu di lapangan atas, saat orang – orang yang lain sedang makan sian di kantin sekolah, kami langsung menuju ke tempat tersebut,dan biasanya untuk bekal makanan kami tidak usah khawatir, selalu ada Masami yang membawakannya untuk kita semua.

“Lalu..?” Tanya Shota malas sambil memilih milih makanan buatan Masami.

“Aku putuskan dia saat itu juga..hahahhahaha…”

“Apa?? Dengan mudahnya kau bilang seperti itu?” Kata Masami yang masih merapikan makanan agar siap kita santap “Kau tahu Massu, wanita yang menjadi pacarmu itu harus kebal hatinya, karena bisa kapan saja kau mencoretnya dari status yang kalian buat.” “ Bayangkan saja kau baru pacaran 3 bulan dengan Erika, tapi hanya karena dia berteriak – teriak seperti yang kau maksud kau dengan mudah memutuskannya.”

“Wah, Masami kata – katamu itu sepertinya mengesankan bahwa aku ini jahat sekali.” Jawab Massu menimpali kata – kata Masami barusan. “ Tapi tenang teman – teman, saat ini aku sudah punya Nao-chan~” Lanjutnya dengan wajah berseri – seri.”Lihat!” Dia pun memamerkan wajah perempuan yang ia maksud lewat Hp nya, yah menurutku perempuan ini modis dan lumayan cantik, hanya saja bodoh. Kenapa ia mau menerima Massu, jurus apa yang laki laki itu keluarkan hingga banyak perempuan berjatuhan karena cintanya yang bagai daun talas. “Aku bertemu dengannya sebenarnya 2 hari yang lalu, saat penataan kostum untuk debut ku yang terbaru, ia adalah adik dari piñata kostumku yang baru, tapi ia selalu datang saat aku sedang take , jadi aku tidak sempat menyatakan perasaanku, lagipula saat itu aku masih bersama Erika. Nah karena kemarin dia datang dari awal prosses hingga bagian end nya, maka aku mencoba mendekatinya dan mengatakan perasaanku padanya. Tak kusangka, ternyata dia juga mengidolakanku, maka dari itu ia dengan cepat menerima pernyataanku. Hahahahaha…. Mudah ya mencari pengganti pacar.”Ia pun tertawa menyeringai seperti orang yang sangat puas karena baru mendapat jackpot.

“Yahh, terserah kau saja lah.”Kataku dengan malas.”Lalu, bagaimana dengan rencana karokean kita? Kemarin kan batal.”

“Bagaimana kalau sabtu?”Kata Massu cepat”hari sabtu aku tidak ada jadwal dari siang hingga jam 10 malam. Bagaimana?”

“Boleh – boleh. Nanti kuberitahu Kuota ya.” “ Kalian bagaimana? Bisa tidak?” Tanyaku pada Masami dan Shota.

“Tenang, jika Raja POP kita bisa, kita juga pasti bisa kok. Iya kan Shota?” Kata Masami. Shota hanya mengangguk pelan.

“Horay!!” Teriak Massu kegiarangan, yah wajar saja dia seperti itu,aku akui akhir – akhir ini kita sudah jarang hang out bersama seperti dulu, karena jadwal Massu makin lama makin padat.” Oh ya, bulan depan aku ada show di Dome, kalian harus datang ya. Soalnya tiket sudah aku booked untuk kalian, nanti 1minggu sebelumnya akan kubawa tiketnya.”Kata Massu sambil terus memainkan ponselnya dan makan bekal yang dibawa Masami. Jika dia begini aku tidak tahu kenapa orang seperti ini bisa menjadi idola masyarakat bahkan membooming hingga satu Jepang mengetahuinya.” Oh! Nao chan!” Serunya hingga kami semua reflex kaget. “ Coba dengar, aku sedang email – email an dengan Nao chan, dia bertanya aku sedang apa. Lalu aku jawab, aku sedang makan bekal buatan sahahabatku, lalu dia Tanya, temanmu itu wanita ya?kalau benar wanita, aku cemburu. Ku balas saja, iya wanita, habis Nao chan tidak membuatkan bekal untukku, nanti kalau aku kelaparan, aku tidak bisa bertemu Nao lagi dong. Lalu dia jawab, Kalau begitu mulai besok aku akan datang pagi – pagi ke sekolah mu untuk memberikan bekal buatanku. Tapi kamu janji kamu harus makan. Lalu ku jawab, Pasti dong, bekal buatan Nao chan pasti lebih enak, karena ada cinta di setiap bahan – bahannya. “ “ Kalian lihat, betapa hebatnya ku bisaa membuat wanita tergila – gila hingga mengorbankan apapun demi kata – kataku itu.Hahahaha”.” Dia imut ya.. Beda dengan Erika, Nao lebih polos. Apalagi dia baru pernah pacaran 2 kali. Hahahaha..”

“Huh! Sudahlah, aku tak mau dengar kelanjutan pembicaraanmu itu!” Kata Shota tiba – tiba, ia pun berdiri dari tempatnya dan merapikan bekalnya “ Aku tahu maksud pembicaraanmu itu nanti kearah mana. Aku sudah bosan mendengarnya. Lebih baik aku mendengarkan cd lagu yang baru kubeli saja.” Ia pun beranjak pergi menuju sudut lapangan dan menyalakan cd lagu yang ia maksud, aku rasa ia menikmati lagu itu sambil merasakan angin yang sedang bertiup sepoi - sepoi.

Aku dan Masami juga sebenarnya sudah malas mendengarkan celoteh Massu mengenai pacar – pacr barunya. Sesegera mungkin kami pun membereskan sisa –sisa makanan yang ada, karena bel sebentar lagi akan berbunyi . Aku lihat Massu hanya memainkan ponselnya sambil senyum – senyum, aku tahu apa isi pesan yang ia kirimkan ke Nao nya. Hingga bel berbunyi pun Massu tetap memainkan ponsel nya, sedangkan Shota asik mendengarkan cd lagu barunya. Saat kami sudah memasuki kelas, pelajaran tak lama pun dimulai. Selama itu pun kami semua berkonsentrasi dengan apa yang di ajarkan oleh sensei kami.

Saat pulang sekolah seperti biasa, Kuota menungguku di gerbang sekolah. Hari ini karena Masami tidak ada jadwal kursus ia ikut pulng bersama ku, sedangkan Shota ia masih ada klub sepak bola dan Massu dijemput oleh manager nya untuk sesi pemotretan next2.

“Wah, kau tambah tampan ya Kuota! Pantas yuko mempertahankan mu.”

“Masamiiii….” Balasku malu. Kulihat Kuota hanya tersenyum malu sambil menunduk.

“Kenapa?” “Toh kenyataanya memang begitu kan?Hehehehe” Katanya usil sambil menyikut lenganku. “Jika aku punya pacar Kuota aku pasti akan jaga dia baik – baik, karena selain dia pintar, dia juga tampan, apalagi sekolahnya juga karena beasiswa, aku iri padamu Yuko.”

“Hey Masami, setiap orang punya kelemahan dan kelebihan kan? Iya kan Yuko chan?” Aku pun mengangguk cepat. Huh! Dasar Masami, dia ikut pulang bersamaku bukannya membuat suasana jadi enjoy, tapi malah megatakan hal – hal yang aneh. Aku dan Kuota kan jadi malu. Meskipun aku tahu Kuota pasti merendah, namun dibalik itu ia pasti merasa sangat malu.

“Iya aku tahu, tapi kelebihanmu itu terlalu menonjol, jadi bagaimana tidak aku iri dengan Yuko. Ehmmm tapi tenang Yuko, aku tidak akan merebut Kouta darimu. Aku bukan teman yang bisa makan teman sendiri, apalagi kau adalah sahabat terbaikku.” Kata Masami manja sambil merangkul lenganku.

“Kau ada – ada saja Masami” Kataku menanggapi kata – katanya”Makanya, kau cepatlah punya pacar supaya kau bisa bermanja bersmanya bukan denganku. Hahahaha..”

“Ah Yuko jahat, masa aku tidak boleh bermanja – manja denganmu lagi.” Katanya dengan tatapan penuh harap. “Ah, kalau begitu aku bermanja di lengan Kouta saja ya..” Reaksinya langsung berubah seketika, dan ia pun menarik tangan Kuata mendekat padanya.

“Masamiiiiiii….” Ujarku,

“Hahahhahahaha…” Kuota hanya tertawa geli menanggapi sikap Masami yang terlalu manja itu.

“Kuota, kau senang ya bersama Masami??” Ujarku dengan nada yang seolah – olah cemburu.

“Tenang saja, meskipun Masami membawaku ke negri antah berantah, hatiku hanya untuk Yuko cahn saja kok”

Sepanjang perjalanan itu lah yang kami lakukan, Masami terus menggoda Kuota dengan sikapnya yang bermanja – manja . Sebenarnya aku sedikit cemburu Masami bertingkah seperti itu, tapi karena dia sahabatku, dan dia tak mungkin bersungguh – sungguh merebut Kuota dariku, aku menikmati tingkahnya itu. Kadang Kuota juga menanggapi tingkah Masami yang berlagak ingin memilih Masami. Tapi setelah melihatku yang kesal dengan kejadian itu, mereka meminta maaf .

Perjalan pulang kali ini diakhiri dengan berpisahnya Masami dari kami. Rumah Masami memang lebih dekat disbanding rumahku dan Kuota.

“Masami itu lucu ya. Aku heran padanya, kenapa wanita seperti dia belum punya pacar ya? Padahal bukannya pernah ada kakak kelas yang jadi kapten klub sepak bola menembaknya?” Tanya Kuota.

“Enatahlah, tapi saat itu kami masih kelas 1, dan kami sangat takut dengan kakak kelas kami yang wanita, karena mereka sepertinya galak – galak. Hahahaha.. tapi itu sebernanya tidak benar. Itu hanya ketakukan kami saja. “ “ Lagipula menurutku type laki – laki yang cocok dengan Masami adalah orang yang dewasa, tidak kekanak – kanakan. “ “ Aku juga tidak paham dengan cara pikirnya. Jika dia mau pacaran, pasti banyak laki – laki yang antri unutk mendapatkannya. Ummm..kalau tidak salah waktu itu di Shibuya pun, saat kami jalan – jalan ada pria yang sepertinya anak universitas menanyakan alamat email Masami, namun Masami malah lari ketakukan. Mungkin dia pikir pria itu adalah pria nakal. Padahal menurutku pria itu baik, apalagi wajahnya juga type ku. Bingkai kacamata yang ia gunakan sangat kontras dengan tatapan matanya yang tajam.” Eh? Ups aku keleapsan bicara, aku bicara terlalu banyak. Perlahan – lahan ku tengok Kuota yang dari tadi diam saja. Oops, sorotan matanya yang liar tertuju padaku. “Maaf Kuota, aku tidak bermaksud membuat Kuota cemburu. Aku hanya mengungkapkan apa yang ingin aku ungkapkan. Maaf ya Kuota.” Pinta ku sambil memohon dengan harapan agar Kuota tidak lagi menatapku seperti itu.

“Hmmm…” Kuota pun tersenyum jahil “Apa iya aku harus cemburu pada ceritamu? Kecuali jika saat itu aku ada bersama Yuko, dan aku melihat Yuko menatap pria itu dengan seribu harapan. Hahahhaha..” “Bagaimanapun juga aku percaya Yuko. Yuko tidak mungkin menghianati Kuota kan?” Tanya Kuota dengan senyum yang lebar mewarnai wajahnya yang cerah. Aku pun mengangguk senang.

Iya, aku tidak akan mengkhianati Kuota, karena Kuota adalah pacar pertama dan terbaikku. Aku harap aku dan Kuota sudah ditakdirkan dengan benang merah. Sampai kapanpun, aku akan terus setia dengan Kuota, karena aku percaya Kuota juga pasti berpikir demikian.

Andaikan kata – kata itu terus mengingatkanku agar aku tidak lupa dengan siapa sekarang aku sedang menjalin hubungan.

“Ohya Kuota, hari sabtu ini aku, Massu, Shota dan Masami akan berkarokean bersama, yah mumpung jadwal Massu sedang free. Bagaimana, apa kau mau ikut?”

“Sabtu? Umm sepertinya aku bisa, memang jam berapa dan dimana?”

“Kalau itu aku belum tahu, coba nanti aku tanyakan.”

“Ya sudah tidak apa. Nanti aku yang tanyakan pada Massu.” Kuota diam sejenak. “Yuko chan” Kuota memanggilku dengan nada lirih, “2 minggu lagi kan hari jadi kita yang setahun, apa Yuko tidak mau merayakannya?”

Asataga! Aku sampai lupa. Ternyata malah Kuota yang ingat. “Maaf Kuota, aku sampai lupa dengan moment itu. Yah baiklah terserah Kuota saja. Hmm” balaku sambil tersenyum pelan. “ Memangnya Kuota ada rencana apa?”

“Aku juga belum terpikir hal itu sih, tapi aku berpikir kenapa kita tidak pergi ke kuil di Osaka saja?”

“Ah! Ide yang bagus Kuota.. Baiklah, bagaimana jika kita nanti ke kuil untuk berdoa agar hubungan kita makin awet. Bagaimana?” Kata ku sambil bermanja di lengan Kuota. Saat ku menoleh ke arah Kuota, kulihat dia tak berani menatap wajahku karena aku tahu pasti dia merasa sangat malu. “ Hehehehe.. Kuota malu ya?” Tanyaku.

“Ah tidak juga.”

“Kalau tidak, kenapa Kuota tidak menatapku?Hm?”

“Iya.” Jawabnya singkat. Ia memang menoleh ke arahku, tapi setelah itu memalingkan wajahnya lagi, aku tahu dia merasa tidak nyaman dengan apa yang kulakukan, maka dari itu akupun melepaskan tanganku yang dari tadi ada di lengan Kuota. Setelah itu Kuota mulai menanggapi pertanyaanku, dan kami pun mulai membicarakan rencana kami. Tapi kebanyakan dari rencana itu yang menyusun Kuota, aku hanya menyetujui dan member saran jika ada rencana yang kurang aku suka.

Tapi sebenarnya setelah itu sikap Kuota jadi agak aneh, dia agak nervous terhadapku. Tapi aku suka mimic wajahnya yang seperti itu. Entahlah, semua yang ada pada diri Kuota aku suka semua. Dari sifatnya yang serius dalam menjalani sesuatu, hingga dalam hal menolong orang. Aku jadi ingat saat pertama aku bertemu dengannya, aku yang murid baru di tempat kursus menanyakan ruang kelas padanya, tanpa ku ketahui bahwa ternyata kami satu kelas. Aku pikir tadinya dia adalah seniorku tapi ternyata saat di absen, aku langsung menyada ri hal tersebut. Kulihat dia sudah banyak kenalan di kelas, padahal seharusnya dia sama denganku, yaitu anak baru. Setelah kami menyadari bahwa kami satu kelas, kami pun mulai menyapa satu sama lain. Tidak hanya sampai di situ, kami pun pernah duduk bersamaan saat bangku tempatnya biasa dia duduk sudah terisi. Dari situ kami mulai membicarakan macam – macam hal seputar sekolah. Lalu kami pun mulai sering duduk bersama, saat itu dia menanyakan tentang tempat tinggalku, dari situ kami tahu bahwa tempat tinggal kami berdekatan, hanya beda blok saja. Selangkah demi selangkah pun mulai terajut di antara kami, kami pun mulai sering pulang bersama dan sama – sama membicarakan masalah di luar pelajaran. Dari situ aku pun tahu bahwa dia dan Massu adalah teman baik hingga saat ini. Mungkin Kuota sendiri juga bercerita tentang aku ke Massu, soalnya tak lama dari itu, Massu mulai mendekati aku dan teman – temanku, tak lain mereka adalah Shota dan Masami. Dan sampai sekarang pun kami tetap berteman. Aku sebenarnya tidak pernah tahu alasan Kuota menyukaiku hingga suatu hari, saat kami pulang bersama saat kursus, hari itu hujan turun lebat sekali. Untunglah kami berdua membawa paying. Dalam perjalan pulang kami terus berdiam diri, tiba – tiba.

“Splash!!” Sebuah mobil melintas dengan kecepatan tinggi, padahal ia seharusnya tahu bahwa jalanan becek denagn kubangan air hujan. Aku pun langsung menyingkir ke sisi jalan. Kuota pun mengikutiku.

“Aduh..Mobil sialan! Mana rumahku masih jauh lagi.Huh!” Ocehku sambil terus membasahi kakiku dengan air hujan yang turun dari atas payungku.

“Sini, kubantu kau pegang payung.” Kata Kuota tiba – tiba.

“Terima kasih,” Kataku pendek “Kau ada tissue atau saputangan?”

“Iya, tunggu sebentar.” Ia pun langsung mencari – cari di dalam tasnya. Dia begitu terlihat repot dengan permintaanku itu, secara dia sedang memegang dua payung yang harus menutupiku dan dirinya dari hujan yang terus ,mengalir. “Aduh kemana sih…” Katanya pelan sambil terus mengacak – acak isi tasnya.

“Sini sekarang aku yang batu kau memegang payung.” Kataku sambil meraih payung yang ada di tangannya.

“Eh?” Kami pun terdiam sejenak, bagaimana tidak tangan kami saling bersentuhan, duh, seperti cerita di novel – novel saja. Kami bukannya segera melepaskan tangan kami, tapi kami malah saling memandang.

“Anu…” Kataku pelan.

“Oh ya, maaf.. Aduh aku malah lupa mencari saputanganku..” Ia pun langsung bergegas mencari – cari di dalam tasnya. Tak lama dari itu pun,

“Ah! Ini dia!” Serunya bangga. “Ini, ambilah.” Katanya sambil menyerahkan sapu tangan yang berwarna putih cerah. Sebenarnya aku agak sungkan memakainya, soalnya saputangannya kan akan kubuat mengelap percikan air jalanan tadi. Tapi sepertinya dia tahu itu, “Sudahlah pakai saja. Aku juga jarang memakainya. Nanti saat kita bertemu lagi kau bisa kembalikan kan?”

“I..I..Iya.” Kataku gugup “Terima kasih yah Kuota.”Lanjutku. Setelah aku merasa kotoran air itu tidak ada lagi aku pun mengajak Kuota melanjutkan perjalan kami.

“Yuko, aku lihat kau cukup menarik ya?” Katanya tiba – tiba.

“Eh?” Sahutku, aku agak kaget dengan pernyataannya itu.

“Hmmm..” Iya pun tersenyum pelan. “Yah aku harap kau tidak keberatan dengan ucapanku barusan. Meskipun aku baru mengenalmu 3 bulan, dan hanya 2 minggu sekali kita bertemu, tapi aku serasa bisa segera menilaimu dengan baik. Menurutku kau itu sangat peduli dengan sekitarmu, terbukti saat kau menceritakan tentang kucingmu yang merusakkan halaman tetanggamu tapi kau mau bertanggung jawab dengan membereskannya kembali. Lalu kepada teman – temanmu kamu juga opened. Kau juga lucu saat merasa tidak enak terhadap lawan bicaramu. Itu terbaca saat kau tadi ingin menolak saputangan dariku. Hihihihi” Ia pun tertawa geli, tapi aku hanya terdiam mendengar penuturannya. Hebat! Dia bisa menilaiku sejauh itu, bahkan aku baru tahu kalau aku orang seperti itu. “Kau tahu Yuko, saat pertama kau menanyakan ruang kelas padaku, aku sedikit penasaran denganmu, karena, seharusnya kau tahu bahwa aku adalah orang yang mengikuti pendaftaran setelah urutan nomormu. Dan aku tak menyangka bahwa kita bisa bertemu lagi. Dan aku senang jika sekarang setiap pulang kursus kau pulang bersamaku.”

“Kuota, maksud pembicaraanmu itu apa ya?” Ops, aku malah menanyakan hal yang aneh. Seharusnya aku tahu maksud pembicaraannya itu kearah mana.

“Hahahahha, Maaf Yuko, bahasaku agak susah dimengerti ya?” Katanya malu. Ia pun menggaruk – garuk kepalanya. Meskipun saat itu sudah malam, tapi tetap terlihat kalau wajahnya memerah. “Ya sudah lupakan saja. Hehehehe..” Aku tidak tahu lagi harus menjawab apa, aku hanya menggangguk menyanggupi maksudnya. Tapi hanya sampai situ.

Suatu saat, aku mendapat email dari Kuota yang mengatakan bahwa nanti dia akan menjemputku di halte bus saat hendak berangkat kursus. Aku sebenarnya agak heran, kenapa tiba – tiba dia mengajakku? Padahal kemarin saat kami kursus, dia tidak membicarakan apa – apa tentang rencana hari ini. Saat aku tanya pun dia hanya menjawab ‘Nanti Yuko juga tahu’. Ya sudahlah toh di paksa seperti apapun juga dia tidak akan menjawab. Apalagi 3 jam lagi kita juga akan bertemu.

Setelah itu, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, dimana jam tersebut aku harus pergi ke tempat kursus. Ah, aku hampir lupa dengan janjiku ke Kouta. Aku harus terlihat rapi dan bersikap biasa – biasa saja.

Sekitar jam 7.05 PM aku sudah tiba di halte yang dimaksud oleh Kuota. Aku menunggunya tidak begitu lama, hanya sekitar 10 menit dari waktu yang di janjikan.

“Maaf Yuko tadi mengurus Takada agak merepotkan.” Katanya tergopoh – gopoh. Ya, aku memang tahu dia adalah guru private di perumahan blok IV, dan kebetulan orangtuaku pun tahu tentang keluarga Takeda yang memiliki seorang anak yang sangat sulit di atur, anaknya baru umur 6 tahun tapi sangat nakal.

“Hmm.. tidak apa – apa.” Kataku santai. Aku agak kasihan dengannya, wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat lelah, aku tahu dia pasti habis lari. “Lalu apa yang mau kau bicarakan?” Tanyaku saat dia sudah sedikit santai.”Oh ya kita bicara sambil jalan saja karena sebentar lagi kelas akan dimulai.”

“Hahahaha…” Dia pun tertawa lebar “Yuko chan lupa ya kalau hari ini kita tidak ada kelas.” Katanya sambil tersenyum lembut. Aduh! Kenapa aku bisa lupa! Jadi… Bagaimana ini? Apa yang akan kami lakukan? Kenapa dia tidak mengingatkan aku. Hh! Aku juga yang salah, kenapa aku tidak ingat ya?

“Jadi… Sekarang kita mau kemana?” Tanyaku dengan nada malu – malu.

“Hmmm…” Kuota pun tersenyum pelan. “Ayo!” Ia pun meraih tanganku dengan cepat dan menarikku ke bus yang baru saja datang. Aku yang sangat bingung ini tidak merespon apa – apa akan tindakannya itu, malah aku menurutinya. Di dalam bus kami tidak bicara apa – apa, tapi yang kulihat, Kuota terus melihat ke luar jendela dan tersenyum terus, aku sempat ingin menanyakan maksunya apa, tujuan kita kemana, kenapa kau lakukan itu, apa boleh begini? Bagaimana jika pacarmu tahu? Yah memang aku tidak tahu status Kuota itu single apa tidak. Jadi aku masih agak canggung bersama dia, aku takut nanti tiba – tiba pacarnya datang dan menegorku dan menuduh aku yang bukan – bukan.

Sekitar 20 menit bus yang kami tumpangi berhenti di pemberhentian kota V, Kuota pun mengajakku untuk turun. “Kuota, sebenarnya kita mau kemana?”Tanyaku pelan. “Kau tidak bermaksud jahat kan?” “Lalu kenapa tiba – tiba seperti ini?” Aku tak mendengar jawaban apapun dari Kuota, tapi yang ku tahu dia hanya tersenyum.

Sepanjang perjalanan kami berdua sama sekali tidak bicara apapun, bagaimana mungkin? Aku tidak tahu tujuanku berjalan itu kemana? Sedangkan Kuota terus tersenyum dari tadi, bagaimana aku tidak bingung. Aku memikirkan banyak hal sepanjang perjalanan itu. Aku melewati gedung – gedung tinggi, kombinasi warna lampunya sangat bagus, aku rasa jika dilihat dari ketinggian jauh lebih bagus. Dan sekarang kami melewati sungai yang disitu banyak kunang – kunang, lalu setelah itu melewati perumahaan, kemudian kami melewati sungai lagi dan inilah tempat tujuan akhir kami. Sungai ini terletak di bagian utara kota kami, yang aku tahu sungai ini jika siang hari sering di lewati wisatawan karena di ujung sungai ini ada kuil yang di percaya bisa mengabulkan permintaan si pemohon yang memohon dengan sungguh – sungguh. Tapi pemandangan di malam hari baru kali ini aku lihat, suananya sangat sejuk dan menarik hatiku yang baru pertama kali ke tempat ini pada malam hari. Di setiap pinggir sungai ini ada lentera yang berjarak sekitar 10 – 15 meter dari lentaera satu ke lentaera lainnya. Dan inilah yang membatku mengagumi suasana seperti ini.

“Yuko suka tempat ini?” Tanya Kuota sambil melihatku dengan tatapan yang serius.

“Hmm!” Jawabku sambil mengangguk pasti. “Ada apa Kuota membawaku ke tempat ini? Bukannya tempat ini agak merumitkan ya?”

“Tidak juga, justru aku suka dengan tempat ini. Karena itu aku membawa Yuko ke tempat ini. “Dan aku senang kalau Yuko menyukai tempat ini. “ Katanya sambil tersenyum lembut. Entah kenapa sejak saat itu aku menyukai senyum Kuota, senyum dari seorang laki – laki yang tulus, yah entahlah saat ini aku tidak tahu dia tulus apa tidak, tapi setidaknya aku menyukainya. Ups! Aku bilang apa? Aku menyukainya? Maksudnya aku menyukai Kuota? Haaaaahhhhh!!!!????

“Yuko, kau kenapa?”

“Eh?” Aku pun tersadar saat Kuota menyentuh pundakku, aduh jangan – jangan dia tahu kalau aku tadi sempat melamun. Aku tak tahu dimatanya apa wajahku saat ini merah atau tidak, yang jelas yang aku rasakan adalah wajahku mulai panas saat aku menatap mata Kuota yang sedang melihat ke mataku juga. “Tidak apa. Aku tidak apa – apa. Oh ya kau tadi belum menjawab pertanyaanku, untuk apa kau membawaku kesini?”

“Entahlah, tapi yang jelas, aku sudah senang saat tahu bahwa Yuko menyukai tempat ini. Kau tahu tempat ini dulu sering menjadi tempat ku bermain bersama ayah saat ia masih ada. Ia pernah bilang bahwa nanti jika aku sudah menemukan wanita yang kusuka, aku boleh membawanya kesini karena tempat ini juga di percaya mengabadikan cinta dua pasang yang saling mencintai.”Dia pun terdiam tiba – tiba dan melirikku secara perlahan. Aku bisa membaca tingkah lakunya. Mungkin dalam hatinya sekarang. Ops, aku kelewatan bicara.

“Maaf Yuko aku tidak bermaksud apa – apa. Aku hanya menjawab yang Yuko tanyakan saja.” “Ohya aku tahu didepan sana kalau malam ada yang jual permen kapas. Yuko mau beli tidak?” Aku tak habis pikir dengan laki – laki ini, ia terlalu terlihat mengalihkan pembicaraan dan aku sebenarnya sudah tahu maksudnya mengjakku kesini itu untuk apa. Tapi yah sudahlah aku hanya mengikuti apa yang ia mau. Dan kami pun pergi menuju tempat yang ia maksud. Tempat itu kalau malam ternyata ramai juga. Tapi kebanyakan pengunjungnya adalah pasangan yang sedang kasmaran. Hahahah aku tidak tahu apa saat itu kami terlihat seperti pasangan juga? Yang jelas, aku masih terasa canggung dengan caranya ini. Entah apa yang ia pikirkan, yang jelas jika ia bermaksud lain ia terlalu berbelit – belit. Hanaya sepanjang malam ini kami hanya membicarkan masalah ringan seperti ujian yang akan kami ikuti 2 minggu lagi. Yah sebenarnya topic seperti itu tidak terlalu penting, tapi daripada tidak ada topic.

“Menurutmu Massu itu seperti apa?”Tanya Kuota saat kami duduk di bangku yang menghadap ke sungai, “Yah, aku hanya meminta pendapatmu. Dimata orang lain kan dia idola besar, mungkin kau punya pendapat lain tentangnya.”

“Hmm…menurutku dia itu tampan secara fisik, apalagi jika di sekolah setiap hari dia pasti mendapat surat pernyataan cinta, dan yang membuat lucu adalah, setiap hal itu terjadi, pasti ia menyuruh Shota membaca dulu dan mencari informasi tentang gadis yang megirim surat itu. Jika menurutnya gadis itu cantik, ia pasti ingin menemuinya. “ Dan kurasa Massu itu sedikit playboy ya?” Ups… aku kan baru kenal Massu beberapa bulan saja, kenapa aku bisa bicara seperti itu. Aduh, bagaimana ini, Kuota khan akrab dengannya jika Kuota nanti menyampaikan omongan ku ini bagaimana.. Aduh aku kenapa sih… “Hmmm..Hehehehe..Maaf aku tidak bermaksud apa – apa,” Kataku pelan.

“Hmmm Yuko…” Katanya lembut sambil memandangku hangat. Ohh tidak.. pandangannya itu sangat ku suka. Bagaimana ini, meskipun hawa malam ini agak dingin tapi melihat wajahnya yang seperti ini aku jadi merasa hangat.Haaaa….Apa yang kupikirkan? “Kau yang baru kenal dia beberapa bulan saja bisa mengatakan hal itu, bagaimana aku yang sudah hapal dengan tingkah lakunya.” “ Yah dia memang begitu. Kau tahu tidak dia itu sudah lebih dari 10 kali pacaran, aku tidak tahu mengapa dia bisa seperti itu. Yang jelas dia hampir selalu mengakui hal itu padaku.”

“Benarkah?” Jawabku tak percaya, huf untunglah kata – kata ku tidak salah.

“Lalu….” Kata Kuota terpata – pata “Apakah Massu pernah mengatakan sesuatu kepadamu?”Tanyanya penuh selidik. Aku yang tidak tahu apa maksudnya hanya menggeleng cepat sambil menanyakan lagi apa maksudnya. “Benarkah dia tidak pernah mengatakan apapun kepadamu?”

“Kuota, aku kan sudah bilang padamu aku tidak tahu apa maksudmu, apalagi menjawabnya.” Kataku agak sedikit kesal. “Ya sudahlah, sekarang sudah jam 9, lebih baik kita pulang saja, apalagi perjalanan ini lumayan jauh. Nanti bisa – bisa kita kemalaman pulang, besok kita kan harus sekolah.” Kataku sambil berdiri cepat.

“Treep…”

“Eh?” Aku pun kaget, tiba – tiba saja Kuota memegang tanganku . Dia pun tersenyum pelan menatapku dan menyuruhku duduk kembali “Kenapa? Kau tidak mau pulang ya?”Tanyaku dengan nada agak setengah takut.

“Yuko tenang saja, aku tidak akan membuatmu pulang sendiri” “Hanya saja…”Ia pun menggemgam tanganku dengan erat, aku tahu saat ini tangannya dingin sekali. “Aku hanya mau mengatakan disini, ditempat ini.” Aku hanya memasang wajah bingung tanpa mengatakn apapun. Soalnya kau memang tidak mengerti apa maksudnya, tunggu apa jangan – jangan… Jangan – jangan… “Maaf Yuko, ini tiba – tiba, tapi aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku, dan kau tidak harus menjawabnya.”Aku menatap matanya yang terus menatapku dalam. Apa maksudnya ini adalah ia menyatakan perasaannya padaku? Ia menyukaiku? Apa benar? “Aku menyukaimu Yuko!” Katanya dengan lantang setelah itu, secepatnya pula ia melepaskan tanganku dan menunduk malu. “Maaf Yuko jika ini semua tiba – tiba, aku rasa perasaanku terhadapmu itu sudah kupendam cukup lama, saat pertama kau berdiri di depanku untuk pendaftaran dan kemudian saat kau menyapaku di lorong kelas . Mungkin kau tidak menyadari hal itu, tapi aku melihatmu selalu dari sisi yang berbeda. Aku pun tidak tahu apa saat ini kau sedang menjalin menyukai seseorang, maka dari itu aku hanya ingin mengutarakan perasaanku dan kau tidak perlu menjawabnya jika itu perlu.”

Itulah kata – kata terakhirnya pada malam itu, setelah itu kami pun pulang dengan suasana hening. Aku sebenarnya tidak suka suasana ini, tapi mau bagaimana lagi aku tidak mengerti dengan keadaan ini. Biasanya sikap kami saling terbuka dan selalu saling menanggapi satu sama lain. Tapi setelah ini kami jadi merasa canggung.

Sudah tiga hari dari kejadian itu, baik aku maupun Kuota sama sekali tidak mengirim pesan. Aku juga bingung bagaimana kami harus memulainya,memang selama seminggu ini kursus diliburkan jadi kami tidak harus bertemu saat – saat ini. Tapi memang ada yang aneh dengan Massu setelahnya. Karena Massu yang biasanya menceritakan tour atau pemotretannya kali ini ia terus menanyakan tentang Kuota. Saat istirahat kami pasti berkumpul di lapangan atas , itulah tempat favourite kami, disitu kami biasanya saling bercerita apapun. Aku, Masami, Shota, dan Massu selalu ke tempat itu. Yang membuatku bingung adalah kata – kata Massu saat itu.

“Kau kemarin sudah bertemu dengan Kuota kan? Lalu apa yang terjadi?”

Aku sadar dengan pertanyaan yang ia utarakan itu membuat bingung kedua temanku ini. Karena Masami sendiri hanya pernah kuceritakan tentang Kuota sekali. Bahkan ke Shota pun aku tidak menceritakan tentang Kuota, entah jika Masami pernah menyinggungnya.

“Yuko, Kuota itu laki – laki yang di tempat kursus mu itu ya?” Tanya Masami.

“Kau tidak pernah menceritakan hal itu.” Sambung Shota.

“Kouta itu teman kursus Yuko, dia juga temanku. Kami sudah berteman sejak SD, aku bisa mengenal Yuko pun dari Kouta. Tapi sebenarnya Kuota itu type laki – laki setia lho. Setauku dia baru pernah sekali pacaran, itupun ia yang memutuskan pacarnya karena pacarnya ternyata selingkuh dengan kakak murid didiknya.” “ Bagaimana Yuko, apa yang terjadi kemarin?” Tanyanya dengan wajah jahil. Aku benci wajahnya itu. Apa – apaan maksudnya bicara seperti itu, seolah – olah ia sedang mempromosikan Kouta di depanku, aku tidak tahu apa Kuota sudah bercerita kepada Massu dan Massu sengaja mamancingku untuk mengatakannya. “Yuko… Kenapa diam? Sudahlah toh cepat atau lambat mereka juga tahu. Jadi tidak apa kau menceritakan itu sekarang. Nah, bagaimana?” Lagi – lagi aku didesak dengan pertanyaanya. Sialan kau Massu.. Aku akan ingat hal ini! Gara – gara itu wajah Shota dan Masami menjadi tambah bingung seolah berkata ‘Katakan Yuko apa yang Massu maksud’.

“Hhh..! “ Aku pun menghela nafas panjang. “Jadi aku dan Kuota adalah teman satu kelas di tampat kursus. Kami sering pulang bersama karena daerah rumahku dan rumahnya tidak begitu beda jauh. Dan kami sering bercerita tentang macam – macam hal. Dia bersekolah di SMU Tohka, kalian tahu kan sekolah negeri yang dalam setahun pasti lebih dari 20 siswa nya masuk Todai. Yah aku akui dia itu master TOEFL di tempat kurusus.”

“Lalu?” Tanya Masami yang dengan serius.

“Lalu apa? hanya itu saja tentang Kuota. Kalian mau aku cerita apalagi?”

“Hmmff..Yuko, setahuku Kuota itu menyukaimu, soalnya dia menyuruhku mendekatimu dan mencari tahu sifatmu itu seperti apa.” Kata Massu dengan lantang.

Hah!!!???Apa – apaan ini? Kenapa dia bisa berkata itu dengan mudah? Aku tidak suka dengan tingkah lakunya. Baik Kuota yang menggunakan caranya unutk mencari tahu tentangku serta Massu yang mulutnya tidak bisa di rem.

“Baiklah… “Kataku dengan terpaksa. “Kemarin dia memang mengatakan perasaannya kepadaku.”

“EHHHHHH….???” Serempak mereka bertiga terkejut dengan ucapanku ini. “Lalu apa yang terjadi?” Tanya Massu. “Kau menerimanya?”Tanya Masami. “Berarti kalian sudah menjalin hubungan ya?” Tanya Shota denganpenuh semangat.

“Tidak! Aku tidak menjawabnya. Toh Kuota juga tidak menanyakan perasaanku. Jadi untuk apa aku menjawabnya.” Kataku dengan santai.

“Heee???Kenapa begitu??” Kata Massu dengan penuh sesal. “Kau tahu aku sudah mengenalnya lama sekali, dan menrutku dia itu orangnya tidak mudah mengutarakan perasaannya pada seorang yang memang ia suka. Jadi aku rasa ia memang sangat menyukaimu makanya ia berani mengutarakan hal itu padamu. Kasihan dia jika tidak mendapat jawaban darimu meskipun dia tidak menanyakannya. Karena dia bukan type orang pemaksa yang mengharuskan gadis yang ia sukai mengiyakan pernyataannya. Jadi lebih baik kau pertimbangkan peraannya padamu. Aku rasa setelah itu kalian pasti jadi canggung satu sama lainnya, ya kan? Soalnya ia pria pemalu akan hal itu.”

“Ah sudahlah aku tidak mau membahasnya. Lagipula itu urusanku. Mau bagaimana biar aku yang atur.” Jawabku kesal.

“Memang sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadapnya selama ini?”

“Yah sebenarnya aku tidak bisa yakin dengan kata – kata ku soalnya kami baru kenal 3 bulan lebih dan tiba – tiba saja dia berkata seperti itu. Aku kan tidak siap dengan pernyataannyaitu.”Jawabku menimpali pertanyaan Masami.

“Jadi untuk saat ini apa yang kau rasakan terhadap Kuota, kalau mendengar cerita Massu sepertinya dia pria baik – baik, lagipula sepertinya pendidikannya terjamin, siapa tahu dai salah satu calon mahasiswa Todai. Jika benar seharusnya kau bangga punya pacar sorang mahasiswa Todai. Ya kan?” Kata Masami kepada Massu dan Shota.

“Hhh.. Masami aku juga tidak tahu apa perasaanku ini. Sejak Kuota memberikan saputangannya kepadaku aku mulai mengaguminya sebagai sosok laki – laki yang aku idamkan, lalu saat ia tersenyum, wajahnya sangat menyeringai. Kadang aku juga merasa ingin melihat senyumnya terus. Tidak hanya itu, saat ia menceritakan tentang ayahnya, ia benar – benar terlihat sedih dan ia juga sangat menyanyagi ibunya yang bekerja yang sekarang menjadi kepala rumah tangga.”

“Hahahahaha…” Serempak lagi mereka tertawa mendengar ucapanku ini.

“Yuko, Yuko.. Kalu kau bisa berkata seperti tadi kenapa kau tidak segera menjawab iya kepada Kuota, kau suka juga kan?” Ledek Massu dengan wajahnya yang menyebalkan.

“Apa maksudmu, aku tidak tahu.” Jawabku kesal.

“Yuko..” Kata Masami sambil merangkulku, “Kau itu suka Kuota, tapi kau tidak mau mengakuinya. Ya kan?” Lanjutnya sambil berbisik di telingaku.

“Sudahlah Yuko, cepat atau lambat kau juga akan tahu perasaanmu terhadapnya itu apa. Tapi sebagai orang yang sudah berpengalaman, aku sarankan kau menemui Kuota dan menjawab pernyataannya.” “Ah, jika kau malu biar akau yang atur . Bagaimana?”

“Sudahlah tidak usah membahas ini lagi, lebih baik kita kembali ke kelas, karena sebentar lagi bel akan berbunyi.”Kataku cepat sambil melepaskan rangkulan Masami dan bergegas pergi menuju pintu lapangan.

Huh! Tahu begini aku tidak cerita pada mereka, aku malah dinasehati, untung Shota itu orangnya tidak banyak omong, jika tidak aku bisa tambah pusing dengan semua ini.

Bagaimana ya, apa benar aku menyukai Kuota? Jujur sebelum ini aku belum pernah pacaran, sebenarnya waktu itu ada yang menyatakan perasaannya terhadapku tapi aku tidak bisa menjawab karena aku memang tidak mengenalnya. Sama dengan situasi saat ini, aku belum begitu mengenal Kuota, apalagi aku ini bukan type gadis yang gampang menerima pernyataan suka dari orang. Yah bisa dibilang aku ini typr pemilih. Tapi sejauh mana aku mengenal Kuota aku tidak meragukan apa yang Massu katakan padaku tadi. Soalnya aku juga berpikir Kuota type pria setia. Dan benar apa yang Masami katakan,pendidikannya sepetinya terjamin.

Selama berhari - hari memikirkan hal ini. Hingga suatu hari di hari libur.

“Yuko, hari ini aku dan yang lainnya ada acara ke gedung West di daerah Seiya, kau bisa datang?” Begitulah isi pesan dari Massu saat aku di rumah sedang menjemur pakaian yang sudah di cuci oleh ibiku semalam.

“Jam berapa?” Balasku.

“Jam 3 sore, sekarang kan masih jam 11, jadi kau bisa bersiap – siap untuk dandan yang cantik. Karena gedung West ini banyak artis dari Avex yang ikut ke acara yang sama denganku.

“Ok. Aku akan menghubungi Masami dulu.”

“Masami nanti kau ikut ke Gedung West?” begitulah pesan yang kutulis ke Masami.

“Iya, Yuko ikut kan?”

“Iya, kita berangkat bersama ya?”

“Maaf tidak bisa, aku sedang di daerah Seiya, jadi nanti aku langsung kesana. Gomen Ne.”

“Tidak apa. Nanti kita bertemu di sana lagsung ya?”

“Hai.. Ja.. Mata Ne.”

Huf, akhirnya aku berangkat sendirian. Pukul 2 siang aku sudah bersiap – siap. Hari ini Karena isi pesan dari Massu, aku pun mengenakan bajuku model Sabrina terusan dengan lengan kelelawar dibumbuhi dengan kalung berwarna pink dan aku menggunakan anting yang berwarna perak. Aku menaiki bus dari area Shibuya karena kea rah Seiya bus hanya ada dari Shibuya, yah aku akui Seiya memang daerah tempat para artis menggelar konser dan live streetnya.

Setelah sampai disana aku agak bingung dengan gedung itu, karena gedung itu sangat besar dan banyak orang hilir mudik. Maka dari itu aku pun segera menelepon Masami, tapi ia tidak mengangkat telepon dariku. Begitu pula dengan Massu dan Shota, mereka sama sekali tidak mengangkat telepon dariku. Bagaimana ini, apa aku harus pergi dari sini? Karena aku sudah menunggu selama setengah jam tapi tidak ada kabar dari mereka. Aku juga sudah mengirim mereka pesan bahwa aku sudah tiba dan aku sedang menunggu salah satu di anatara mereka menjemputku di sini.

“Yuko?”

“Eh?” Begitu aku menoleh kearah suara itu, aku dan orang itu terkaget – kaget.

“Kau sedang apa?” Tanya orang itu.

“Kau sendiri?”

“Aku disuruh Massu kesini. Katanya dia ada disini?”

“Sial jangan – jangan ini akal – akalan mereka semua mempertemukanku dengan Kuota di tempat ini. Pantas saja Massu menyuruhku berdandan seperti ini. Sialan mereka!” Gerutuku dalam hati.

“Lalu, kau sudah bertemu Massu?” Tanyanya. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum kecut. “Oh begitu,kita tunggu saja dia disitu.” Katanya sambil menunjuk ke bangku kosong di lobbi gedung ini. Aku hanya mengikuti ucapannya. Bagaimana ini, aku tidak ada topic dengannya. Aku hanya bisa memainkan ponselku tanpa mengetahui apa yang kumainkan. Setelah cukup lama kami menunggu orang yang sudah pasti tidak datang akhirnya Kouta berkata “Daripada kita menunggu tanpa kepastian, lebih baik kita lagsung Tanya saja pada petugas, apa ada acara yang diperankan oleh Massu?” Katanya. Aku pun menyanggupinya. Ia pun ke reseptionis dan menanyakan seperti yang ia katakan tadi, tapi petugas menjawab.

“Hari ini tidak ada jadwal Masuda Yamashita tampil, artis Avex pun juga tidak ada dalam jadwal.”

Sudah kuduga mereka merencanakan hal ini untuk menjebakku. Sialan kalian… Ingin rasanya aku berteriak pada mereka.

“Sepertinya kita memang dikerjai oleh Massu, lebih baik kita pulang saja yuk.” Kataku dengan nada dingin.

“Yuko marah ya?”Tanyanya pelan.

“Marah?Bagaimana tidak aku marah pada mereka. Apa maksud mereka merencanakan ini. Mereka membuang waktu istirahatku saja! Aku benci mereka. Awas ya, mereka besok pasti tidak berani memperlihatkan batang hidungnya di depanku. Sial, tahu begini aku tidak pergi.” Sepanjang perjalanan ke halte aku terus bicara kasar, seolah – olah aku lupa keberadaan Kuota disampingku.

“Sudah sudah Yuko, daripada kau terus marah – marah seperti ini, lebih baik kita ke café disana yuk, nuansanya bagus, aku pernah kesana soalnya. Bagaimana?”

Ugghhh Kuota, jika kau memandangku seperti itu terus, aku benar – benar ingin mengiyakan pernyataanmu waktu itu, aku hanya mengangguk dengan wajah bad mood.

Kami pun tiba di café yang Kuota maksud. Memang benar apa yang ia katakana, nuansanya bagus, semua background café ini diisi dengan nuansa salju yang mana banyak pohon musim gugur, jadi kita serasa dibuat menikmati 4 musim di satu tempat sekaligus. Apalagi lagu yang mereka putar adalah lagu – lagu memories semua, seperti lagu Masatoshi Ohno,Yuko Yamaguchi, Lee Couple. Menu yang ditawarkan pun bervariasi, ada cofe, ice cream,hingga occha. Aku rasa Kuota memiliki selera yang hampir sama denganku.

Namun, meskipun begitu, selama kami menunggu pesanan kami datang, kami tidak membicarakan apapun. Kami sama – sama sibuk dengan ponsel kami. Aku sedang email – email an dengan teman sekelasku yang menanyakan mengenai tugas kelompok membuat rangka mini house. Aku sebenarnya hanya bingung saja dengan topic pembicaraan apa yang akan dibicarakan jika aku berdua saja dengan Kuota. Aku tidak tahu apa Kuota merasa sama, soalnya dia juga serius memainkan ponselnya. Tatapannya terus terpaku ke ponselnya. Aku sebenarnya tidak begitu focus dengan ponselku, karena terkadang aku melirik kea rah Kuota juga.

“Maaf menunggu lama,” Kata seorang pelayan yang membawakan pesanan kami “Silahkan, orange juice dan milk shake nya.” Pelayan itu pun segera pergi meninggalkan kami.

“Hmm..” Aku pun tersenyum pelan ke Kuota sambil meminum milk shake ku.

“Bagaimana, nuansanya bagus kan?”Kuota pun memulai pembicaraan sambil meminum orange juice nya.

“Iya. Milk Shake nya juga enak.” Jawabku.

“Lain kali kita kesini lagi yuk. Soalnya aku lihat, Yuko jadi ceria kembali setelah datang ke café ini. Padahal tadi kan Yuko bad mood. Hehehehe.” Katanya dengan nada setengah meledek.

“Hehehehe.. Benar, aku sampai lupa kalau tadi sempat bad mood. “ “Kuota sering kesini ya?”

“Iya, tapi dulu. Aku kira tempatnya sudah berubah ternyata masih sama.”

“Maksudnya? Dulu kapan?”

“Hmmm..”Katanya sambil tersenyum lembut. “Iya, dulu saat aku SMP, aku dengan seseorang sering kesini. Biasanya di hari sabtu kami kemari.”Ia pun berhenti sebentar,lalu “ Ah, tapi sekarang sudah tidak lagi.. Makanya aku agak ragu tentang perubahan di tempat ini. Jadi aku mengajak Yuko kemari. “ Tapi syukurlah Yuko menyukainya.”

“Iya, aku suka.” “Oh ya ngomong – ngomong, seseorang itu siapa?” Kenapa kau sering kemari bersamanya?”Tanyaku penuh selidik. “Ah, tapi jika kau tidak mau menjawabnya juga tidak apa.”

“Tidak apa – apa.Hmmm..” Ia pun tersenyum lalu meminum orange juice nya lagi.”Dia adalah Keiko, aku dan dia sudah menjalin hubungan selama 6 bulan, itu terjadi saat kami masih SMP. Aku menyukainya, dan aku berharap dia juga menyukaiku. Kami sering kesini pada hari sabtu saat aku selesai pulang mengajar anak SD di sekitar sini. Keiko kadang ikut denganku untuk membantuku disana. Orangtua anak muridku mengijinkan Keiko datang, jadi kami sering bersama. Kami adalah teman sekelas, dia sering menyapa danmembantuku di klub music, aku jadi menaruh perhatian padanya. Lama – lama aku jadi menyukainya dan aku tak tahu mengapa, tapi Keiko lah yang menyatakan perasaannya padaku, aku yang saat itu juga menyukainya, aku langsung menerimanya. Kami pun menjalin hunbungan sebagaimana pasangan kekasih tanpa melampaui batas – batasnya. Hingga suatu hari saat aku sedang kembali ke rumah anak didikku, karena buku pelajaranku tertinggal disana. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa Keiko sedang bermesraan dengan kakak anak didikku. Begitu aku melihat kejadian itu, aku pun langsung mengambil bukuku dan segera meninggalkannya. Setelah itu selama 3 hari ia tidak masuk sekolah, aku pun tidak mau mendengar penjelas apapun dari dia. Menurutku hubungan kami sudah ternodai, maka dari itu, aku tidak mau berpacaran dahulu dan aku menutup diriku terhadap perempuan. Tapi..” Ia pun berhenti dan menatapku dalam. “Aku mulai mau membuka diriku saat aku melihat Yuko… Hmmmm..Maaf Yuko, aku tidak bermaksud apa – apa.”Ia pun tersenyum lirih dan menunduk. “Sebenarnya waktu itu, saat aku mengungkapkan perasaanku, aku agak takut…Hmmm…Tapi sekarang tidak apa – apa.” Ia pun mulai mengadahkan wajahnya dan tersenyum lebar. “Yuko boleh melupakan kata – kataku waktu itu, Anggap saja aku tidak pernah mengatakannya.Hmmm..”Katanya sembari menghabiskan orange juice nya.

“Mana bisa aku melupakan saat itu Kuota.” Aku pun reflex berkata seperti itu, Kuota pun kaget mendengar kata – kataku terlihat dari reaksinya yang tiba – tiba terdiam dan terperangah memandangku. “Maaf Kuota, waktu itu aku tidak bisa menjawabnya karena Kuota yang bilang kan. Tapi sejak saat itu hatiku jadi tidak tenang, aku selalu teringat wajah Kuota tersenyum lebar, wajah Kuota saat serius mengerjakan sesuatu, wajah Kuota saat berusaha menenangkanku,lalu wajah Kuota…” Aku tidak sempat menyelesaikan kata – kataku karena tiba – tiba tangan Kuota menyentuh tanganku. Aku jadi tediam seribu bahasa, aku juga tak tahu kenapa aku bisa bicara seperti tadi. Aduh, aku malu sekali. Kenapa begitu detail aku mengungkapkan apa yang ada dipikiranku.

“Yuko, aku tidak mau memaksa Yuko untuk menyukaiku seperti aku menyukaimu, tapi saat ini aku senang mendengar apa yang Yuko katakan, itu berarti aku mempunyai tempat di hati Yuko.”Katanya sambil terus tersenyum lebar. “Saat ini yang aku mau hanya Yuko yakin dengan jawaban Yuko. Aku tidak memaksa Yuko jika aku memang tidak ada di hati Yuko.” Ia pun melepaskan tanganku dan tersenyum lagi. Aku hanya diam mendengar apa yang ia katakana. Apa benar aku sudah yakin dengan apa yang aku rasakan. Jika itu benar, berarti aku menyukai Kuota dan aku bisa mengiyakan pernyataannya. Tapi dalam hatiku aku tidak begitu yakin dengan apa yang kuyakini saat ini. Aku memiliki keraguan dalam hal ini. Bagaimana ini? Jika aku meninggalkan Kuota tanpa jawaban dariku, maka bisa – bisa aku akan kehilangan senyumannya itu. Dan selain aku sudah membuatnya sakit hati, aku juga sudah membohongi diriku diriku sendiri.

“Kuota,” Kataku dengan serius saat Kuota hendak memanggil waiter untuk membawakan bill.Tapi ia tidak jadi meakukan hal itu, ia lalu berpaling ke arahku. “Aku tidak tahu dan aku sebenarnya tidak yakin dengan apa yang akan kukatakan, tapi..” Aku pun tertunduk kaku, kemudian dengan secepatnya aku mengadah kearah Kuota,”aku sepertinya juga memiliki rasa yang sama seperti yang Kuota rasakan, aku tidak tahu apa benar aku menyukai Kuota atau aku hanya membutuhkan Kuota. Tapi jujur, aku tidak mau kehilangan senyum Kuota dan perhatian dari Kuota. Aku juga tidak mau terus menerus menanggung rasa tidak nyaman seperti ini. Maka dari itu, aku ingin hari – hariku diisi dengan Kuota.”Aku pun mengakhiri ucapanku itu dengan senyum yang lirih. Huff…Akhirnya aku mengatakan hal itu. Entah kenapa setelah itu hatiku jadi agak tenang. Setelah mendengar kata – kata ku itu Kuota hanya tersenyum lirih, kemudian ia memegang tanganku dan berkata.

“Yuko yakin dengan yang Yuko katakan barusan?”

“Iya.” Jawabku singkat.

“Hmm.. Terimakasih Yuko.” Wajahnya pun terhiasi dengan sneyumnya yang cerah. “Berarti mulai sekarang Yuko adalah milikku, dan aku milik Yuko. Ya kan?”

“Hmm…Iya, aku rasa aku terlalu lama memikirkan hal ini, seharusnya saat itu aku langsung menyanggupi pernyataan Kuota.” Kataku pelan. Tangan Kuota terus menggemgam tanganku, kini aku bisa merasakan genggaman tangan seorang pria untuk pertama kalinya. Dan untuk pertama kalinya pula ada tangan pria yang membuatku begitu nyaman saat berada digenggamannya.

Dan saat pertama teman – temanku mengetahui hal ini mereka langsung membuat perayaan. Kuota pun langsung kepurkenalkan dengan mereka semua. Dan setelah itu aku pun tahu bahwa ternyata Massu selama mendekati ku dan teman – temanku karena Kuota yang memohon untuk mencari tahu tentangku, tapi Massu secara tak sadar langsung merasa enjoy berteman dengan kami semua. Yah, meskipun Shota memiliki sifat pendiam dan tak banyak bicara, lalu Masami yang selalu membicarakan masakan dan fashion, aku seorang pendengar yang selalu mendengarkan kata – kata mereka dan kadang mengomentari dengan kata – kata yang agak tegas, dan entah kenapa Massu bisa nyaman bersama kami yang memiliki aneka ragam sifat itu. Kuota pun saat pertama berkenalan dengan Masami dan Shota langsung akrab. Shota dan Kuota mereka sama – sama memiliki hobi bermain sepak bola, dan berasal dari wilayah yang sama yaitu Fukuoka. Meskipun Masami dan Kuota tidak memiliki kesamaan tapi Masami lah yang selalu meledek Kuota yang menjadi pacarku seperti,

“Aku tak menyangka pria sepertimu memilih Yuko.”

Atau..

“Lain kali jika aku menjadi muridmu boleh ya.”

Massu yang sudah mengenal Kuota punmenyinggung mengenai komitmen yang sudah dibuat Kuota dulu bahwa ia tak mau pacaran hingga ia lulus SMU.

“Ah, Kuota, aku jadi ingat kata – kata mu yang tak mau pacaran hingga lulus SMU. Tapi nyatanya kau sekarang bersama Yuko. Hahaha dasar kau ini.”

“Boleh kan, toh kita akan tahu kapan cinta itu datang. Ya kan Yuko chan?”

“Hmm..”Sahutku pasti. Yah, mulai saat itulah dia memanggilku Yuko chan dan aku memanggilnya Kuota kun.

__________________________________%______________________________________

Ughh… hari ini aku ada ujian Matematika. Mana aku masih ngantuk lagi, yah wajar saja semalaman aku terus mengerjakan tugas bunpo bahasa Inggrisku, dan aku tidak sempat menyentuh buku Matematika ku. Bagaimana yah.. Meskipun aku sudah bangun sejak pukul 5 pagi, tapi aku tidak bisa belajar, karena aku masih ngantuk sekali. Sebenarnya semalam selain aku mengerjakan tigas, aku juga telepon Kuota, sesekali ada bentuk grammar yang aku tidak tahu, maka aku bertanya padanya. Dan selama 2 jam dia menemaniku mengerjakan bunpoku ini. Katanya sih semalam dia sedang tidak ada tugas dan sedang membaca – baca buku saja, makanya aku berani memintanya menemaniku semalaman.

“Huah…..” Akupun bergegas bersiap – siap untuk pergi ke sekolah,

“Yuko, kemarin ibu membelikanmu Mantou, kau pasti suka. Nah cobalah.” Ujar ibuku saat melihatku turun menuju ke ruang makan, dimana diruangan itu setiap pagi ibuku pasti membuatkanku sarapan untukku.

Akupun mencoba mantou yang berbentuk telur itu, mantou adalah makanan favouriteku sejak aku kecil, aku ingat, saat itu aku berkunjung ke rumah nenekku yang di Gunma, dan nenekku adalah pembuat mantou di daerah itu, dan mantou nenek menurutku memang enak. Sejak saat itu aku selalu menyukai mantou nenek, hingga tak lama setelah aku beranjak umur 9 tahun, dia meninggalkan kami semua karena kondisinya kurang baik. Aku sebagai cucunya sangat menyanyangkan kepergiannya karena nenek sangat baik. Dia juga tahu kalau aku satu – satunya cucu yang sangat menyukai mantou buatannya, karena setahuku saudara – saudaraku yang lain beranggapan bahwa mantou nenek biasa saja.

“Oishii… Okasan…” Ujarku semangat saat memakan mantou yang ibu berikan padaku. Melihat aku yang senang dengan mantou yang ia berikan, ia pun duduk diseberangku sambil menopang dagunya.

“Melihatmu seperti ini, ibu jadi ingat saat kau masih kecil dulu, pertama kalinya ibu melihatmu begitu menyukai makanan, karena dulu kau termasuk anak yang susah makan.”
Ibu sadar, saat nenek meninggal, kau begitu sedih sehingga tak ingin ke pemakamannya. Meskipun saat itu kau masih kecil, ibu tahu kau sangat tak rela dengan kenyataan itu.” Ujar ibuku.

“Ibu… Hentikan ah, nanti aku bisa teringat dengan mendiang nenek “ Kataku manja, memang benar jika ada yang menyinggung tentang nenek, entah kenapa aku bisa sedih. Padahal itu kejadiannya sudah lama sekali.

“Hmm.. Baik, baik..” Kata ibuku sambil berdiri menghampiriku. “Nah, ini… Ibu sengaja kemarin membeli lebih untuk bekal kau juga.” Katanya sambil memperlihatkan sesuatu dibalik tangannya itu. Dan ternyata dibalik tangannya itu ada sekotak mantou yang besar – besar.

“Waaaahhh..” Aku pun terperanjat kaget. “Wuahhh… banyak sekali bu, ini untukku semua?” Tanyaku tak percaya.

“Memang ibu punya anak berapa, hingga harus membagi mantou ini?” Katanya sambil tersenyum lebar.

“Arigatou okasan.. “ “Aku akan membagi mantou ini kepada Kuota, aku rasa ia pasti suka.”

“Coba kau berikan padanya, pasti dia juga suka mantou ini”

Dan setelah itu, seperti biasanya, Kuota menjemputku pagi ini. Dengan senyum yang cerah, ia telah membuatku melupakan akan ujian Matematika yang akan kuhadapi nanti.

“Bagaimana Yuko dengan bunpo nya. Sudah kau ketik kan?”

“Mmm.. Berkat Kuota, tugasku jadi terasa ringan.” Jawabku. “Oh ya sebagai ucapan terimaksihku kepada Kuota, nih.. terimalah..” Kataku sambil menyodorkan mantoun yang sudah kubungkus tadi dirumah.

“Apa ini?” Tanyanya heran.

“Ini bekal untuk Kuota, Kuota bisa memakannya nanti siang.”

“Baiklah, aku anggap ini sebagai kejutan dari Yuko yah.”

Sepanjang perjalanan menuju sekolah kami terus membicarakan banyak hal, seperti aku yang tidak siap menghadapi ujian nanti dan Kuota terus memberikanku support. Lalu membicarkan Massu sang playboy itu.

“Jaa… terimakasih ya Kuota sudah mengantarku sampai disini.” Kataku saat kami sudah tiba dipersimpangan jalan. Sekolah Kuota ada diarah Utara, sedangkan sekolahku ada di arah barat, jadi kami selalu berpisah dipersimpangan Chiaki. “Ja~ Ne~”

“Bye.. Bye… Yuko chan.” Balasnya.

Huah,akhirnya aku harus menuju ke sekolah dan memasuki gerbang sekolah ini.

“Hoah….” Desahku saat aku memasuki gerbang sekolahku.

“Hey Yuko, pagi – pagi sudah lemas, semangat dong…”Tukas Akira, teman sekelasku.

“Akira, kau mengagetkanku saja.”Kataku kesal

“Hahaha.. Dasar kau, begitu saja sudah kaget, makanya contohlah Akira, pagi – pagi berangkat kesekolah dengan penuh semangat.” Balasnya sambil menepuk bahuku

“Kau tahu, pagi ini aku sangat malas, karena ujian Matematika nanti aku samaseklai tidak belajar.” Kataku dengan lemas dan penuh sesal.

“Bukan hanya kau saja kok yang tidak belajar, aku juga tidak belajar. Karena kau tahu kenapa?” Katanya dengan harapan aku menanyakan alasannya.

“Aku tidak tahu kenapa dan tidak mau tahu.” Balasku dengan tegas, lalu sesegera meninggalkannya dengan kesal. Yah mungkin sikapku ini ini tidak bagus. Tapi aku tidak mau banyak bicara dengan orang bermasalah itu. Meskipun Akira adalah laki – laki, tapi sifatnya itu seperti anak perempuan. Dia terkenal biang gossip di kelas. Istilah kata, gossip apa sih yang dia tidak tahu. Apalagi gossip mengenai Massu, entah dari mana dia bisa tahu sekarang Massu sedang pacaran dengan siapa. Yang jelas anak itu selalu up to date. Dan mengenai alasannya ia tidak belajar semalam, aku sudah bisa menebaknya bahwa semalam ia pergi ke club milik saudaranya untuk pamer, karena club milik saudaranya memang terkadang ada artis yang datang kesana.

“Ohayou Yuko chan~” Sapa Masami yang sedang duduk dibangkunya dan ngobrol dengan Maki teman sekelasku. Maki anaknya pendiam dan agak tertutup, di kelas yang menyapanya hanya Masami dan Akiko. Akiko adalah ketua club masak dimana Maki ikut di club itu. “Kau sudah belajar matematika?”

“Hahh… Masami jangan sebut – sebut matematika!” Ujarku sambil bertekuk lemas di mejaku.”Aku sama sekali tidak menyentuh buku itu. Bagaimana ini?” Ujarku lemas.

“Katanya Pak Hirota hari ini tidak masuk, karena istrinya melahirkan.” Ujar Maki. Secepat kilat aku terbangun kaget.

“Hah? Majide?” Aku pun langsung menatap Maki dalam. “Kau serius?” Tanyaku tidak yakin. Maki hanya mengangguk pelan. “Yokatta…”Ujarku lega. “Berarti hidupku belum berakhir.Hahahhahahaha…” Kataku sambil berteriak kegirangan. “Oh ya, ini aku ada bawakan mantou untuk mu. Ambillah.” Kataku sambil menyodorkan mantou kearah Maki. Maki hanya tersenyum, lalu mengambil sebuah dan memakannya. “Masami jika kau mau ambillah…”Belum sempat aku menyelesaikan kata – kataku. Tiba – tiba…

“Aku ambil…..” Sret…”Ummm.. umaiiiii..”

“Haaaaahhhh.. Massuuuu….” Kataku kesal, tanpa basa basi dia langsung mengambil mantou ku dan memakannya. “Kau tidak sopan ya. Masami kan belum ambil.”

“Oh ya? Memang Masami mau makan ini?” Ledeknya.

“Dasar kau. Kau kira aku sepertimu tamu tak di undang tapi bisa mencela seenaknya.” Kata Masami membela diri. “Sini, aku kan belum mencobanya..” Masami pu mengejar Massu yang berlari keliling kelas. Yah untungnya kelas masih sepi, dan memang seperti inilah pemandangan setiap pagi jika Massu datang awal. Aku hanya menonton mereka sambil tertawa kecil.

“Triit…Tritt…” Ah ponselku berdering. Aku pun membuka ponselku dengan segera. Dan ternyata mail dari Kuota.

“Yuko chan Gambare ya buat ujian Matematika nya.”

“Kouta, aku hari ini tidak jadi ujian karena istri Pak Hirota melahirkan.”

“Ah, bagus kalau begitu. Jadi Yuko chan yang semangat yah >o<”

“Iya, aku pasti semangat kok. Karena tidak jadi ujiannya.”

“Waaaahhhh…. Pesan dari Kuota yah..” Kata Massu tiba – tiba, ia tiba – tiba saj muncul dibelakangku. “Aku cinta Kuota, bagaimana dengan Kuota?” Ledeknya.

“Hey, enak saja kau bilang begitu..” Balasku kesal

“Ya sudah bagaimana kalau, Aku ingin selalu ada di hati Kuota, Kuota kun mau ya…Please..” Ledeknya lagi.

Aku tidak tahu harus menjawab apa, karena Massu lah pasti yang menang. Aku pun tidak tahu kenapa Kouta bisa dekat dengan orang seperti ini. Segi kecocokan dari mana mereka bisa berteman sekian lama. Tak lama setelah itu.

“Massu… Coba lihat ini.” “Bruuk..” Begitulah sapaan Shota setiap akli ia mendapat surat penggemar Massu. “Aku tidak tahu, setiap hari pasti ada surat untukmu. Apa mereka tidak bosan mengirimimu surat ini.” Kata Shota kesal, ia pun tertunduk lemas di mejanya yang terpaut 1 bangku kebelakang dari tempat duduk Massu.

“Yang sabar ya Shota, hehehehe..” Ujar Masami sambil menepuk bahunya. “Teman kita yang satu ini memang selalu membuat kita repot.”

Begitulah setiap Massu mendapat surat, pasti surat itu jatuh ketangan Shota dahulu, karena rumor yang beredar, Shota adalah asisten Massu saat jam sekolah. Padahal itu hanya gossip yang disebarkan Akira, karena sebenarnya dialah yang ingin berteman dengan Massu, namun Massu merasa risih dengan anak bermasalah itu. Tidak hanya itu, pernah satu kali Akira menyapanya saat dikelas hanya ada mereka berdua, namun Massu langsung memainkan ponselnya dan berpura – pura menelepon manajernya. Massu pernah berkata kalau ia lebih baik tidak ada teman daripada mempunyai satu teman seperti Akira, bisa – bisa reputasinya hancur ditengah jalan.

“Haaaa.. Mantou ku tinggal segini?” Kataku kaget saat melihat sisa mantou ku hanya tinggal 3 buah. Padahal ini jam makan siang, aku lapar.

“Tenang Yuko, kalau ada Masami kau tidak perlu khawatir. Dia pasti membawa bekal.” Ujar Massu.

Seperti biasa, saat istirahat kami pasti berkumpul di lapangan atas. Ada aku, Shota dan Massu. Sembari menunggu kedatangan Masami, kami semua sibuk memainkan ponsel kami. Aku sedang email – email an bersama Kouta. Dia sangat terkejut dengan isi bekal yang kuberikan tadi pagi. Ia pikir itu hanya bekal biasa, karena sudah terlanjur ia menawarkan ke teman – temannya. Maka ia hanya bisa memakan 1 buah saja. Aku sebenarnya menyanyangkan hal itu, tapi tak apalah, toh teman – teman Kouta berkomentar baik tentang mantou itu.

“Lalu….” Kata Shota sambil mengeluarkan isi bingkusannya itu. Dan tak lain bungkusan itu berisi surat – surat yang ia terima tadi pagi.” Ini bagaimana?”

“Oh, maaf aku sampai lupa. Hmm.. Buka saja. Kau boleh membacanya.”Jawab Massu santai.

“Kau sebenarnya suka apa tidak sih kalau mendapat surat – surat seperti ini?”Tanya Shota dengan nada agak kesal.

“Tergantung bagaimana orang yang mengirimi surat itu.” Lagi – lagi jawabannya membuat Shota kesal.

“Kalau begitu kau baca sendiri saja. Untuk apa aku capek – capek membacanya, toh kau tidak pernah serius terhadap mereka.”

“Hey, kau kenapa serius…Aku kan hanya bercanda. Sekarang aku sedang membalas email dari Nao chan. “ “Oh.. kalau tidak,kau boleh meninggalkan surat itu, nati biar aku berikan ke editorku supaya dia yang urus.”

“Hhh..Massu, apa kau sudah serius dengan Nao?” Tanyaku yang dari tadi memperhatikan tingkah lakunya yang menyebalkan itu

“Mungkin..”Ia menjawab itu sambil terus memainkan ponselnya.”Ah, Masami kemana sih.. Aku sudah lapar..” Keluhnya sambil memegang perutnya.

“Kau kan artis King Pro, kenapa kau tidak membawa bekal sendiri? Kau kan bisa meminta manajermu membawakannya untuk kau makan.” Kataku.

“Manajerku itu sangat cerewet tentang hal makanan. Nanti bisa – bisa aku hanya diberi sayur – sayur dan sayur dan sayur…Huaaa.. Aku tak bisa membayangkan hal itu…” Katanya sambil terus memainkan ponselnya itu.

“Minna~!” Tiba – tiba Masami muncul dengan suara yang mengagetkan kami semua. “Gomen, aku telat datang. Soalnya tadi aku dipanggil ke kelas masak. Maaf ya teman – teman “ Katanya penuh sesal, lalu ia pun membuka bekal yang dari tadi kami nantikan. “Hari ini aku membuat sushi salmon, kemarin orang tuaku baru mendapatkan ikan salmon dari pasiennya.” Katanya sambil membagikan sushi masing – masing kepada kami.

“Uwaaa~” Massu pun terperajat melihat sushi yang Masami bawakan. Bagaimana tidak, sushi yang Masami buat sepertinya menggairahkan perut kami yang memang lapar. “Sepertinya ku mau makan dalam porsi double.” Katanya sambil memakan sushi itu dengan lahap. Kemudian ia berkomentar.” Oishii~ Masami chan.” “Aku tidak menyesal jika memakan masakan mu setiap hari. Semua yang kau buat pasti enak . . Umaiii~” Massu pun terus berkomentar enak tentang masakan Masami. Lain hal nya dengan Shota.

“Kok, hari ini sepertinya meskipun sushi ini enak, tapi kau lupa satu hal penting Masami,”

“Eh?” Aku, Masami, dan Massu bingung dengan pernytaan Shota.

“Yahh.. Kalian tidak sadar, sushi ini enak, tapi kau lupa kecap asin. Bukankah jika ada itu akan menambah rasa sushu ini semakin enak. Ya kan?” Katanya sambil memakan sushi ini dengan pelan – pelan.

“Ah, dasar kau, meskipun kau bilang begitu, tetap saja kau menghabiskan sushi ku. Dasar kau Shota.” Kata Masami sambil memukul lengan Shota.

“Sakit..”Rintihnya sambil membalas pukulan Masami.

Aku dan Massu hanya bisa tertawa melihat kejadian ini. Yah, menurutku Masami itu memang udah menarik perhatian lawan jenis. Meskipun Shota orangnya pendiam, tapi jika dekat dengan Masami, sifatnya pun berubah menjadi Shota yang ceria. Mungkin karena Masami dan Shota bertetangga jadi mereka saling tahu satu sama lain.

“Oh ya sabtu ini bagaimana? Kita jadi kan?” Tanya Masami.

“Boleh – boleh. Aku sudah mengajak Kuota, dia mau kok.” Jawabku.

“Dimana kita mau karaoke?” Tanya Massu.

“Bagaimana kalau di Fukuhara Zone?” Ujarku.

“Dimana itu?”Tanya Masami.

“Dekat Shibuya bagian selatan, disana setahuku ada discount untuk member. Apalagi jika kita berlima. Soalnya Kuota pemegang member disitu. Bagaimana?”

“Ah, aku merasa tidak aman.” Jawab Massu. “Maaf Yuko, bukannya aku tidak setuju, tapi tempat seperti itu pasti banyak yang mengenalku. Apalagi bulan depan aku ada live street di shibuya, dan disitu banyak pamphlet mengenai hal itu. Jadi aku tidak mau menanggung resiko.” Katanya, lalu “bagaimana jika karokeannya di gedung Beika? Kan malamnya aku juga ada gladiresik disitu, lagipula system soundnya nanti orangku yang atur. Bagaimana? Disitu gratis kok. Hehehe..” Katanya sambil malu – malu.

“Ah, kalau gratis itu lebih bagus!” Seru Masami. “Baiklah kita disitu saja.””Oh ya kau tidak ajak Nao?”

“Nao? Untuk apa? Aku hanya mau menemuinya jika berdua saja,tidak bersama kalian.”Kata Massu sambil menyombongkan diri.

__________________________________%______________________________________

“Oh… Jadi sabtu ini kita jadi karokean di gedung beika? Tapi apa Yuko yakin Massu bisa?” Tanya Kuota saat pulang, Kuota memang setiap aku pulang sekolah ia pasti menjemputku, jika ia memang tidak ada pelajaran tambahan.

“Kuota kenapa? Percaya lah pada teman kita yang super sibuk itu. Hahaha”

“Iya, aku percaya, tapi itu karena Yuko yang bilang padaku.”

“Hmmm..” Aku pun tersenyum jahil. “ Oh…jadi Kuota terpaksa ya hanya karena aku yang bilang. Ugh.. Dasar..” Ujarku sambil memukul lengan Kuota.

“Hahahaha.. Yuko, sakit… Awas kau ya..” Kuota pun mengejarku yang berusaha melarikan diri dari pembalasannya. Aku suka suasana seperti ini, kami saling bercanda ria,kejar – kejaran seperti anak kecil yang berebut permen. Hmm.. Aku ingin setiap saat bisa seperti ini bersama Kuota. Dan aku harap tidak ada yang merusak saat – saat seperti ini.

Setelah lelah, kami pun duduk di bangku taman dan saling tertawa geli melihat wajah kami yang merah dan acak – acakkan karena reus berlari seperti anak kecil. Kami pun mencoba menenangkan diri, karena kami sehabis ini akan pergi ke perpustakaan umum, seperi biasa, aku dan Kuota selalu mencari buku baru tentang perkembangan Bahasa Inggris, yah meskipun sebenarnya yang bisa mencerna dengan cepat hanya Kuota, tapi tak ada salahnya kan, toh aku juga suka bahasa inggris.

“Yuko, terima kasih ya, sampai saat ini Yuko mau berada disisiku.” Katanya pelan saat kami sudah menemukan buku menarik dan duduk berhadapan.

“Kuota kenapa sih,” Tanya ku heran. “Sudahlah, ini kan perpustakaan. Lebih baik kita konsentrasi pada buku ini dulu.” Jawabku pelan.

“Hmmm..” Ia pun hanya tersenyum pelan lalu kembali pada bacaannya.

Setelah kurang lebih 1 jam kami pun menyudahi bacaan kami, karena sebentar lagi Kuota harus mengajar.

“Arigatou Yuko chan, kau mau menerima segala kekuranganku ini. Aku harap hubungan kita bisa sampai kakek nenek. Hihihii…”Katanya geli.

“Hari ini kuota kenapa sih? Bicara yang aneh – aneh.”

“Tidak kenapa, aku hanya takut kehilangan Yuko, maka dari itu nanti di saat hubungan kita sudah setahun, kita doakan ya di kuil di Osaka.”

“He? Aku sampai lupa dengan 1 tahun hubungan kita.” Kataku terperangah “Bulan depan kan hubungan kita genap setahun. Hmm.. Tidak terasa ya..”

“Iya, maka dari itu, aku mohon Yuko dan aku selalu menjalani apa – apa bersama. Ya?”

Aku sebenarnya hari ini agak aneh dengan sikap Kuota yang terus mengatakan hal aneh, bagaimana tidak, semenjak di perpustakaan ia selalu mengatakan kalau ia takut kehilangan diriku, yah.. memang aku juga takut kehilangan Kuota, tapi hal seperti itu wajar saja dirasakan pasangan. Yang aku aneh dengan sikap Kuota lainnya, dia menjadi lebih lembut dan terbuka dalam segala hal. Apa mungkin ini karena sudah hampir setahun hubungan kita ya? Ah.. Entahlah, aku tidak mengerti yang jelas aku menyukai Kuota seperti aku menyanyangi kedua orangtua ku.

__________________________________%______________________________________

“Heeee… Putus dengan Nao????” Tanyaku kaget, bagaimana tidak, aku datang pagi – pagi dan bertemu dengan Massu di kelas, apalagi ia duduk tepat di belakangku, jadi meskipun aku tidak menyapanya tapi ia bisa dengan bebas berbicara apapun yang ia inginkan kepadaku. Tapi entah kenapa ia datang pagi – pagi hari ini, padahal idola yang satu ini biasanya datang paling tidak setelah pelajaran ke tiga. Yang jelas saat ini aku kaget dengan apa yang ia katakan bahwa ia sudah putus dengan Nao. Untungnya kelas masih sepi jadi dia tidak begitu kalut mendengar seruanku. “Tiga hari yang lalu kau sepertinya baik – baik saja, bahkan kau bilang, kalau kau akan menemuinya jika berdua saja. Dan kau bilang bahwa kau suka wajahnya yang imut, tawanya yang membuatnya makin mungil. Lalu..”

“Dia ternyata tidak mau kuajak kencan.”Potongnya.

“Heee?” aku pun kaget lagi mendengar ungkapannya. “Maksudmu?” Aku tidak tahu harus bilang apa lagi. Massu ini memang playboy, namun.. Arghh.. Entahlah..

“Yah, setiap aku menjalin hubungan, kami pasti pergi berkencan, namun Nao malah menolak, katanya ia masih dibawah pengawsan orang tuanya. Arrghhh.. persetan dengan alasannya. Aku tadi hanya menggertaknya mengatakan putus, tapi ia bilang Ok, daripada ia menanggung resiko lebih baik putus. Ya sudah hubungan kami sudah berakhir.”

“Lagipula kau kenapa begitu? Kau yang keterlaluan Massu. Aku juga sependapat dengan Nao.” Balasku kesal dengan apa yang baru saja ia utarakan.

“Yuko, kau tidak mengerti ya, selama aku berpacaran, aku pasti berkencan dengan mereka semua, dan sekarang aku tidak mau hanya karena Nao aku tidak mendapat ciumannya.”

“Terserah kau saja, tapi aku yakin, nanti reputasimu bisa turun lho, kan kita tidak bisa menjamin apakah Nao bungkam atau tidak.”

“Kau jangan menakutiku dong…” Katanya dengan nada setengah memohon agar aku bisa menarik kata – kataku kembali. “Tapi….” Dia pun terdiam sejenak “Aku sudah ada rencana sih..” Katanya sambil tersenyum – senyum seolah lupa apa yang baru saja ia keluhkan padaku.

“Apa rencanamu?” Tanyaku cuek sambil mengambil buku pelajaran yang nanti rencananya akan ada latihan unutk persiapan ujian.

“Kau jangan kaget ya…” Katanya dengan serius. Aku hanya memandangnya dengan wajah bingung tanpa berkomentar apapun. Dia pun menunduk sebentar lalu mengadahkan wajahnya dan mendekat kearahku seolah ingin berbisik. “Aku mau menembak Masami.” Sesaat aku merasa dipukul. Apa ini? Kenapa ini, aku tidak tahu apa yang aku rasakan, kesal, benci, jijik dengan temanku yang satu ini. Mungkin aku benar – benar tak habis pikir dengan plaboy yang satu ini.

“Yang benar saja? Masa kau mau menembak Masami!?” Tanyaku dengan nada yang agak keras.

“Sssstttt……” Dia pun membungkam mulutku dengan cepat. “ Kau jangan keras – keras, sudah banyak yang datang, nanti mereka tahu lagi.” Dia pun melepaskan tangannya lalu melanjutkan lagi.” Sebenarnya aku tidak tahu…” Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Masami sudah datang dan ia langsung menghampiri kami.

“Selamat pagi Yuko Kawaguchi.. Selamat pagi Masuda Yamashita..” Seperti biasa ia selalu ceria layaknya baru mendapat pacar baru. “Bagaimana kalian sudah belajar?”

Massu seperti sedikit salah tingkah dengan kehadiran Masami. Aku hanya berusaha menutupi apa yang ia rasakan, “Sudah kok.” Jawabku. “Lebih baik kau letakkan tasmu lalu kesini. Kalau begini kan kau repot. Yak an, kau ambillah buku pelajaran lalu kita belajar bersama. Cepat..” Kataku dengan nada memerintahnya. Tapi ia mengiyakan kata – kata ku itu. Lalu selagi ia menuju tempatny Massu cepat – cepat mengatakan,

“Yang tadi aku katakan hanya kita berdua yang tahu ya, Shota dan Kuota belum tahu. Kau jangan katakana pada siapapun ya.” Begitulah katanya dengan nada berbisik.

“Ada apa?” Tanya Masami dengan wajah polosnya yang sudah kembali dari tempat duduknya yang berada dua baris sebelah kiri sejajar dengan tempat dudukku.

“Tidak, hanya saja Massu bilang sabtu ini kita jadi karokean bersama.” Ujarku.

“Oh… Bagus kalau begitu, ohya kemarin saat aku pulang, aku bertemu dengan Saori, dia mengajakku ke tempat sale baju. Dan aku menemukan beberapa baju disana. Nanti hari sabtu aku akan pakai, pasti Yuko juga suka bajuku itu. “ Ia pun tersenyum menyeringai. Pipinya yang merah bersinar itu menandakan kalau ia memang gadis yang ceria seolah tak ada masalah di dirinya.

Pelajaran tak lama pun dimulai dan benar dugaan ku kami semua, hari ini diadakan ujian. Untungnya aku sudah belajar semalam, jadi aku bisa mengerjakannya dengan mudah.

“Hah..??!! Nao sudah kau putuskan..!!” Teriak Masami saat menegtahui bahwa Massu dan Nao sudah putus. Karena hanya di lapangan ini kami bisa bebas mengekspresikan apa yang sedang kita rasakan sekarang.“Kau benar – benar keterlaluan Massu.” Ujar Masami sambil cemberut, “ Kau dulu sepertinya sudah cinta mati dengan Nao, kau memujanya seolah hanya dia wanita di dunia ini. Tapi sekarang dengan mudahnya kau putuskan dia. Keterlaluan.”

“Aku sih tidak heran. Kalau tidak begitu, bukan Massu namanya.” Kata Shota ketus, lalu “ Aku hanya memperingatkanmu jika nanti kau kena karma.”

“Shota…” Ujar Massu “ Jangan begitu dong, kau seperti menyumpahiku.” Katanya sambil merangkul Shota, tapi Shota melepasakannya, lalu pindah tempat. “Hei, kau kenapa Shoo-kun” Kata Massu sambil mengikuti kemana Shota pergi. Aku dan Masami hanya tertawa melihat tingkah Massu dan Shota.

“Piip…”

“Eh..?” Ponselku berbunyi, sepertinya ada pesan masuk.

Ah, dari Kuota..

“Yuko… nanti pulang kau kerumah Massu ya?”

Eh?? Kerumah Massu? Untuk apa? Aku menoleh kearah Massu dengan tatapan bingung. Setahuku dia hari ini tidak membicarakan apapun denganku selain rencananya menembak Masami.

“Tidak, aku tidak tahu, kuota tahu dari mana?”

“Kata Massu, dia mau mengajak kita kerumahnya. Aku sendiri tidak tahu ada apa.”

“Nanti aku tanyakan padanya. Soalnya dia tidak membicarakan apapun denganku.”

Setelah bel berbunyi, kami pun bergegas turun. Namun akau menarik tangan Massu sambil berbisik “Kau mau mengjakku dan Kuota kerumahmu?”

Massu pun terkejut dan memukul dahinya seolah dia memang lupa dengan apa yang seharusnya dia katakan padaku. “Iya.. Maaf aku lupa, nanti kau pulang kerumahku ya. Aku mau membicarakan sesuatu denganmu. Tentu saja dengan Kuota juga. Tapi hanya kalian berdua saja yang tahu. Oke?”

“Hh.. Dasar kau. Masa kau yang mengundangku tapi aku tahu dari Kuota yang berada di beda gedung.” Ujarku.

Saat pulang aku memang menunggu Massu cukup lama, karena dia sengaja memarkir mobilnya di tempat yang agak jauh dari perkiran sekolah. Kuota hari ini ada rapat pengurus Klub sepak bola, jadi memang dia agak telat nanti.

“Sebenarnya kau membicarkan apa sih?” Tanyaku saat aku sudah berada di dalam mobilnya.

“Nanti saja jika sudah sampai rumahku.”

“Dasar, aku sudah bisa menebak apa yang akan kau bicarakan.”

“Ahahaahahahahah…. Jika sudah tahu langsung saja.”

“Seharusnya kau lah yang memulainya.”

“Sudahlah nanti saja… Aku harus kensentrasi menyetir.” Rengeknya yang memang sedang serius menyetir.

Tak lama pun kami sudah tiba dirumanya. Rumanya Massu memang berada di dekat pusat kota, maklum dia kan artis jadi biaya rumahnya pun ditanggung managementnya. Dirumahnya ada adik perempuannya yang sedang les piano. Sedangkan ayah dan ibunya sedang pergi keluar negeri. Keluarga Yamashita memang punya pengurus khusus untuk mengurus segala keperluannya. Karena Keluarga ini bisa dibilang penghuni jarang stay home setiap saat. Aku pun dipersilahkan memasuki ruang tengah , dan disana hanya ada aku sendiri karena hari ini memang penghuninya hanya 3 orang. Massu masuk kemarnya untuk bergegas ganti baju dan berbenah diri. Aku pun sambil menunggu Massu aku mengirim pesan ke Kuota.

“Kuota, aku sudah dirumah Massu, kau kapan datang?”

“Iya, sebentar ya Yuko chan, sebentar lagi aku selesai. Yuko chan tunggu disitu.”

“Hai,.. Kuota kun ^^”

Tak lamapun Massu datang dan membawa jus kaleng. Ia pun duduk dihadapan ku dengan santai sambil memainkan ponselnya. “Kau santai saja sambil menunggu pacarmu datang.”

“Sebenarnya kau ada apa sih menyuruhku mengundangku kesini. Tumben sekali, bukannya biasanya kau sibuk sana sini?”

“Hahahaha.. Hari ini aku tidak ada jadwal apapun, mungkin nanti malam baru aku harus ke kantor. “

“Oh begitu… Lalu apa benar kau akan menembak Masami?”

Massu langsung menatapku tajam dan mendekatiku. Eh, apa apaan ini, kenapa aku jadi grogi.?? Heh!!??

“Hahaha..Kau belum pernah berciuman dengan Kuota ya?”

“Heeeee?? Maksudmu?”Tanyaku kaget.

“Tidak hanya saja aku bisa melihatnya dari sorot matamu yang nervous saat aku mendekatimu. Itu tandanya kau belum pernah siap untuk dicium seseorang. Hahahaha…”

“Hei, aku kesini bukan untuk kau mengomentari aku!! Kalu kau begitu terus aku pulang saja!!” kataku sambil beranjak dan bergegas untuk segera pergi dari tempat ini. Aku benar – benar kesal dengan ulahnya itu. Sungguh keterlaluan. Aku dan Kuota memang tidak pernah berciuman. Lalu apa hubungannya dengannya??

“Maaf Yuko, aku tidak bermaksud apa apa. Aku hanya heran saja dengan Kuota, dia selalu bilang kalau kau itu manis, imut,baik, dan pokoknya kau sempurna lah… Tapi dia tidak pernah mau melakukan sesuatu yang bisa membuatmu menjadi miliknya. Benarkan?”

“Massu, aku katakan sekali lagi, jika kau tidak berhenti mengomentari kau dan Kuota. Aku akan pulang!!”

“Iya.. Baiklah Yuko..” Ia pun mulai berwajah serius dan kemudian menatapku tajam. “Kau tahu type pria yang Masami sukai?”

“Eh?” Aku pun terdiam mendengar apa yang ditanyakan Massu itu adalah berasal dari hatinya dan suaranya itu sangat serius. “Aku…” “Aku tidak tahu.. Tapi…”

“Aku tahu.. Dia menyukai pria yang pintar, setia, serius, bertanggung jawab dan dewasa.” Massu pun tersenyum kecut dan berdiri sambil menengguk minuman kalengnya dan mengadah keatas seolah bingung dengan apa yang ia hadapi sekarang. “Yuko, kau tahu aku merasakan ada yang aneh setiap kali aku melihat Masami tersenyum dan aku sangat ingin jika senyumannya itu hanya untukku. Entah sejak kapan aku cemburu bila melihatnya tersenyum dan tertawa bersama Shota.” Ia pun duduk dan melemparkan dirinya di sofa yang berada di seberangku. “Aku bodoh ya… Bisa menyukai temanku sendiri… Bukan.. tapi sahabatku sendiri..”Aku melihat matanya sedikit berkaca – kaca. “Aku hanya ingin hal ini kau, aku dan Kuota saja yang tahu. Aku belum siap mengungkapkannya langsung.” “Aku selalu iri terhadap Shota yang bebas keluar masuk ke rumah Masami. Sedangkan aku? Aku selalu tersiksa dengan apa yang kulihat, kudengar.”

“Hey, aku tidak 100% percaya omonganmu, karena sejauh yang kukenal kau itu playboy!” Aku pun mulai angkat bicara. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu. Kau selalu bisa mencari wanita pengganti pacar lamamu dalam hitungan hari. Tapi sekarang kenapa kau malah menyukai Masami. Kau itu keterlaluan Massu. Apa tidak ada wanita lain selain sahabatmu sendiri? Aku tidak bisa membanyangkan jika nanti Masami mengetahui sahabatnya menembaknya. Aku rasa ia akan jijik denganmu.” Kataku dengan pandangan risih. Mendengar kata – kataku barusan ia hanya terdiam. “Kenapa kau diam? Benar kan apa yang aku katakan? Kau itu keterlaluan Massu!!” Teriakku.

“Yuko..terserah kau mau bilang apa padaku. Tapi aku mohon padamu supaya kau mau membantuku.”Katanya sambil memohon.

“Aku tidak akan membantumu sedikit pun.” Tegasku sambil membuang muka

“Yuko.. Aku tidak tahu lagi harus kepada siapa aku mencurahkan isi hatiku ini jika bukan kepadamu. Aku yakin cuma kau yang tahu bagaimana Masami. Dan aku sudah matang – matang memikirkannya. Aku tidka bisa menahan lama – lama lagi perasaan yang kependam ini.”Ia pun menggemgam tanganku erat sambil metapku dalam. Uh.. Bagaimana ini, dua – dua nya sahabatku, tapi aku tidak mau membuat Masami sakit nantinya. Massu juga begitu, dulu aku dan Kuota bisa sampai sekarang juga karena dia, jika aku tidak membantunya aku tidak enak. Bagaimana ini?

“Plok..” Aku pun menepuk bahu Massu “Aku mungkin tidak bisa membantumu banyak tapi aku akan coba mencari cara agar kau Masami bisa bersama, karena aku sendiri kurang begitu paham bagaimana komitmen Masami dalam menjalin sebuah hubungan.”

Gyuuttt…

“Eh?”

Aku pun kaget karena Massu memelukku.

“Aku yakin hanya Yuko saja yang mengerti aku. Aku mengandalkanmu dalam hal ini Yuko. Terima kasih karena kau mau mengerti aku..”Bisiknya.

Wangi rambut Massu, pundak Massu yang lebar, detak jantungnya , aku bisa merasakan semuanya.. Aku tidak tahu mengapa, aku merasakan kelembutan dari seorang Massu, padahal aku Cuma dipeluk olehnya. Dan aku memang tidak pernah merasakan hal seperti ini terhadap Kuota.

Ehh.. Kuota, kau lupa kau sudah jadi milik Kuota….

Aku pun langsung melepaskan pelukan Massu.

“Maaf, aku reflek melakukannya karena aku senang mendengar apa yang kau katakana padaku.” Kata Massu seolah tahu apa yang kupikirkan.

“Aku akan membantumu tapi kau harus ingat satu hal. Jika kau berani macam – macam terhadap Masami, aku lah orang pertama yang akan membunuhmu!”

Massu hanya tertawa lebar sambil menghabiskan minumannya. Aku pun membuka minumanku dan meminumnya. Tak lama pun Kuota datang.

“Hai Yuko chan!! “ Kuota pun datang dan langsung menghampiriku.

“Hei Kuota, aku tuan rumah disini, kenapa yang kau sapa malah sesama tamu? Dasar kau ini..Huh..” Keluh Massu saat mengetahui bahwa saat Kuota datang akulah yang ia sapa bukan tuan rumah.

“Aku kan kesini memang untuk bertemu dengan kekasihku yang cantik ini. Bukan bertemu kau.” Kata Kuota sambil mengecup kepalaku.

“Oh.. Jadi sekarang, karena kau sudah bertemu dengan Yuko kau mau melupakan aku..? Oke kalau begitu aku lebih baik aku permisi dulu…” Kata Massu sambil beranjak dari tempat duduknya.

“Hey…” Kata Kuota sambil menahan Massu yang ingin berdiri. “ Bagaimanapun juga jika kau tidak ada, aku tidak mungkin bisa bersama dengan Yuko sampai sekarang.” Kuota pun tersenyum lebar lalu duduk disamping Massu. “Kau lupa ya…” Sejenak Massu terdiam, dan mereka saling berpandangan, lalu…

“Yosh!!!..” Mereka berdua pun saling memberi salam dengan cara berkepalan tangan. “Hahahaaha…” Setelah itu mereka pun tertawa, dan entah apa yang mereka tertawakan, yang jelas suasana ini sangat membuktikan bahwa mereka memang adalah sahabat sejati, meskipun berbeda status tapi itu tidak pernah terlihat diantara mereka.

“Hhh..Jadi begini ya, jika kalian sadah bertemu aku ini jadi tidak dianggap..” Kataku pelan.

“Eh??? Kau cemburu padaku ya Yuko..??” Tanya Massu semeringah.

“Hh.. Yang benar saja aku cemburu padamu.”

“Tenang Yuko chan, aku akan tetap mencintai Yuko kok. Meskipun orang ini mencoba merayuku sekalipun. “ Kata Kuota sambil membelai kepalaku lembut.

“Wah….. Kalau begini sih, aku heran kenapa kalian tidak pernah berciuman. Padahal di depanku kalian bisa mesra seperti ini. “

“Eh???” Kami pun kaget dengan ucapan Massu. Refleks kami berdua pun terdiam dan salah tingkah.

“Hahahahahhaha… Benar kan kataku. Kalian itu kan sudah pacaran lama. Apa sih salahnya…” Massu belum selesai menyelesaiakn kata – katanya, Kuota memotongnya.

“Memang kalu sudah pacaran 10 tahun sekalipun dan tidak berciuman apa itu salah?” Kata Kuota dengan nada sedikit menantang. Ah.. Aku suka Kuota yang seperti ini… Wajahnya seolah mengatakan, jika cara pacaran kami itu sehat. Tidak seperti dia.

“Ah, sudahlah aku kalah bicara jika berhadapan dengan Master TOEFL seperti mu.” Kata Massu pasrah. Ia pun membanting diri di sofanya sambil membentangkan tangannya dan kepalanya mengadah keatas. Sesaat wajahnya sangat sendu dan seolah butuh kebahagian.

“Kalian tahu, aku ini tidak pernah mengerti apa arti cinta sebernarnya. Dan aku sepertinya sudah merasakannya sekarang. Dan aku yakin dengan apa yang kurasakan ini.”

“Kau bicara apa sih Massu. Aku tidak mengerti.” Jawab Kuota.

“Yah seperti yang aku bilang padamu Yuko.” Ia pun menatapku lalu menunduk. “Aku menyukai Masami. Dan aku benar – benar ingin ia menjadi milikku.” Katanya pelan.

“Heee?? Kau serius?” Kata Kuota terperajat. “Kau benar2 menyukai Masami? Atau..”

“Hmm..” Massu pun tertawa pelan “Sudah kuduga, kau dan yuko pasti bertanya hal yang sama, yahh.. aku memang payah.. Tapi aku tidak tahu mengapa, setiap kali melihat Masami hatiku terasa aneh.”


*be continue...*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar